Bercengkerama dan Bermain Dengan Anak Ala Parenting Rasulullah

Bercengkerama dan Bermain Dengan Anak Ala Parenting Rasulullah

Bercengkerama dan Bermain Dengan Anak Ala Parenting Rasulullah – Ayah bunda, seperti yang kita ketahui, bercanda dan bercengkerama dengan anak akan menumbuhkan jiwanya dan mengungkap segala sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Dengan bermain bersama anak, banyak sekali manfaat yang didapat.

Dalam hal ini, kita juga mendapatkan keteladanan pada diri Rasulullah saw. Beliau bercanda dengan Hasan dan Husein. Mereka menaiki punggungnya. Setelah itu, beliau berjalan membawa keduanya. Beliau juga bermain dengan anak-anak Al Abbas, mendoakan Abdullah bin Ja’far yang saat itu dilewatinya dan te- ngah bermain dagang-dagangan. Beliau mengatakan, “Semoga Allah memberkahi perdagangannya.”

Begitulah Rasulullah saw. Beliau telah menjadi teladan dalam hal bercengkerama dengan anak-anak. Ia menyayangi dan bersikap baik dalam memperlakukan mereka. Hal itu seperti yang kita lihat saat ia berinteraksi dengan cucu-cucunya dan anak-anak para sahabat.

Saking besarnya perhatian terhadap masalah senda gurau an-tara orang tua dan anak-anaknya, Rasulullah saw. menyerukan kepada seluruh orang tua untuk melakukannya. Abu Sufyan berkata, “Saya masuk ke rumah Mu’awiyah. Saat itu, dia dalam kea- daan telentang, sementara di atas dadanya ada seorang anak kecil yang sedang merengek-rengek. Lalu, saya berkata kepadanya, ‘Jauhkanlah anak ini darimu, wahai Amirulmukminin.’”

Ia menjawab, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, Barang siapa mempunyai anak kecil hendaklah ia bercengkerama dengannya.’” (H.R. Ibnu Asakir)

 

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan saat itu ada Al Aqra’ bin Harits sedang duduk. Berkatalah Al Aqra’, “Saya punya sepuluh orang anak. Saya tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.”

Rasulullah saw. memandangnya seraya mengatakan, “Orang yang tidak menyayangi tidak akan disayangi.”

 

Abu Ayyub Al Anshari r.a. berkata, “Aku masuk ke rumah Ra- sulullah saw. sedangkan Hasan dan Husein bermain di hadapan beliau atau di kamarnya. Aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Ra- sulullah saw. apakah engkau mencintai mereka?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Bagaimana aku tidak mencintai mereka. Mereka adalah dua kuntum bunga raihanah di dunia dan aku selalu menciumnya.’” (H.R. Ath Thabrani)

Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. berkata, “Aku masuk ke rumah Rasulullah saw., sementara Hasan dan Husein sedang bermain diatas perut beliau. Lalu, saya bertanya,‘Ya Rasulullah, apakah engkau mencintai mereka?’

Rasulullah saw. menjawab, ‘Bagaimana saya tidak mencintai mereka, padahal mereka adalah dua kuntum bunga raihanah bagiku.’” (H.R. Al Bazzar)

Bercengkerama dan Bermain Dengan Anak Ala Parenting Rasulullah

Al Barra bin Azib mengatakan bahwa Rasulullah saw. sedang shalat, lalu datanglah Hasan dan Husein (atau salah satunya) dan menaiki punggung beliau. Jika bangkit, beliau mengisyaratkan dengan tangannya agar ia berpegangan. Kemudian, beliau mengatakan, “Sebaik-baik kendaraan adalah kendaraanmu.” (H.R. Ath Thabrani)

Jabir bin Abdillah r.a. mengatakan, “Saya masuk ke rumah Ra- sulullah saw. Beliau sedang berjalan dengan dua kaki dan dua tangannya (merangkak), sedangkan di punggungnya ada Hasan dan Husein. Beliau mengatakan, ‘Sebaik-baik unta adalah unta kalian dan sebaik-baik orang yang adil adalah kalian.’”

Itu semua menunjukkan betapa pentingnya orang tua bercengkerama dengan anak-anak. Para sahabat pun kemudian mengikuti Rasulullah saw. Mereka segera bercanda dengan anak-anak mereka dan memosisikan diri sebagai anak-anak.

Umar bin Khattab r.a. mengatakan, “Sebaiknya seorang bapak menjadi seperti anak kecil dalam keluarganya dalam hal keakraban, pergaulan, fleksibilitas, dan bercanda dengan anak-anak.”

Umar pun pernah memecat salah seorang pegawainya dari jajaran pemerintahan karena beliau menemukan pada orang itu in- dikasi-indikasi kekerasan hati terhadap anak-anaknya.

Muhammad bin Salam menjelaskan, Umar bin Khattab mengangkat seseorang untuk tugas tertentu. Orang itu melihat Umar mencium anaknya. Oleh karena itu, orang tersebut kemu- dian bertanya, “Engkau menciumnya, padahal engkau adalah

Amirulmukminin? Jika menjadi engkau, aku tidak akan melakukannya.”

Umar menjawab, “Lalu, apa dosaku (dengan melakukan hal itu) jika (kamu tidak melakukan hal serupa akibat) rasa kasih sayang telah tercerabut dari hatimu? Sesungguhnya, Allah hanya mengasihi hamba-hamba-Nya yang penyayang.”

Umar pun kemudian memecatnya dan mengatakan, “Kamu tidak menyayangi anak. Bagaimana mungkin kamu akan menyayangi orang-orang?’”

 

Para ulama salaf juga memahami pentingnya bercanda dengan anak-anak dan membangun tubuhnya. Imam Ghazali mengatakan, “Setelah selesai belajar Al Qur’an, sebaiknya anak diizinkan untuk bermain dengan permaianan yang bagus untuk melepas lelah. Biasanya, anak tidak merasakan kelelahan kalau bermain. Seba- liknya, pelarangan bermain dan pemaksaan terus untuk belajar akan mematikan nuraninya, menghancurkan kecerdasanya, dan membuat kehidupannya menjadi muram. Pada akhirnya, ia akan mencari-cari jalan untuk meninggalkan belajar. Anak yang tidak suka berolahraga akan menyimpan berbagai bahaya yang semakin lama semakin besar dan berkembang. Kemudian muncul, jika tidak sekarang, kelak kemudian hari, keringkihan rohani dan hancurnya mentalitas dalam berbagai bentuk.

Manfaat Bermain Bagi Anak

Bagi anak-anak, permainan mempunyai beberapa manfaat dan akan mampu menanamkan beberapa nilai, di antaranya :

  1. Nilai fisik. Permainan yang aktif sangat penting bagi penum- buhan otot anak. Dengan bermain, ia akan berlatih keterampilan dalam menemukan dan menghimpun sesuatu;
  2. Nilai edukatif. Permainan membuka peluang seluas-luasnya bagi anak untuk belajar tentang banyak hal melalui alat-alat permainan yang bervariasi, seperti mengenal bentuk, warna, atau ukuran. Dengan permainan itu, anak-anak sering memperoleh pengetahuan yang tidak mungkin diperoleh dari sumber yang lain;
  3. Nilai sosial. Dengan bermain, anak akan belajar membangun hubungan sosial dengan orang lain dan belajar cara sukses bergaul dengan mereka. Dengan permainan kolektif, ia juga dapat belajar bagaimana memberi dan menerima;
  4. Nilai akhlak. Melalui permainan, anak akan mempunyai pe- mahaman awal tentang benar dan salah. Ia juga akan mengenal beberapa nilai akhlak dalam bentuk awal, seperti keadilan, kejujuran, amanah, disiplin, dan sportivitas;
  5. Nilai kreativitas. Dengan permainan, ia dapat mengungkapkan kemampuan kreativitasnya dan mempraktikkan gagasan-ga- gasan yang dimilikinya;
  6.  
  7. Nilai kepribadian. Melalui permainan, anak akan mampu mene- mukan banyak hal tentang dirinya. Ia dapat mengukur kemampuannya dan keterampilannya melalui interaksinya dengan teman-temannya. Ia juga belajar menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya;
  8. Nilai solutif. Dengan permainan, anak akan keluar dari kete- gangan yang muncul akibat banyaknya ikatan yang dipaksakan kepadanya. Maka dari itu, kita sering menyaksikan anak-anak yang berlatar belakang keluarga terlalu banyak ikatan, perintah, dan larangan bermain lebih agresif dibandingkan anak lainnya. Bermain juga merupakan salah satu sarana yang baik untuk mencairkan permusuhan.

Permainan akan memberikan kesenangan kepada anak. Lebih-Lebih, apabila di dalam permainan itu ayah dan ibu berperan serta. Mungkin bentuknya sekadar melempar bola kepada si kecil, mengekspresikan kekaguman atas karya sulam putrinya, menambahkan garis pada gambar yang dibuat anaknya, atau menemani putrinya bermain dan dari situ si anak belajar tata krama (adab) berbicara, makan, dan minta izin.

Cara Pagari Anak dari Permainan Berbahaya

Bisa juga berperan dalam bentuk permainan yang lainnya. Bagaimanapun, seorang anak lebih cenderung bermain secara kolektif ketimbang sendiri-sendiri. Akan tetapi, tetap harus diperhatikan bahwa ada beberapa permainan yang berbahaya bagi anak.

Di salah satu sekolah di Illionis, Amerika Serikat, pernah di­ adakan sebuah penelitian terhadap anak berusia antara lima hingga sepuluh tahun. Penelitian itu ditujukan kepada anak­anak yang biasa bermain perang­perangan dan anak­anak yang bermain de­ ngan permainan lainnya.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa anak­anak yang biasa bermain perang­perangan lebih agresif diban­ dingkan anak­anak lainnya. Mereka lebih banyak memukul dan menyakiti, misalnya dengan cara menendang, menjambak rambut, atau menindih tubuh anak lainnya. Adapun anak­anak yang tidak bermain perang­perangan, misalnya permainan yang mengajarkan kerja sama, berpikir, dan berpikir kolektif, mereka tampak lebih tenang dan jauh dari sikap agresif.

Banyak orang tua yang gelisah melihat fenomena negatif pada anak-anak yang biasa bermain perang-perangan. Fenomena itu kian parah setelah si anak menonton film-film kartun yang menggambarkan perkelahian dan permusuhan.

Kini, apa yang dapat Anda lakukan untuk memagari anak-anak Anda dari pengaruh-pengaruh yang berbahaya terhadap perilaku mereka?

Pertama, pandai-pandailah memilih mainan yang akan Anda beli. Arahkanlah keinginan anak Anda dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Ketika Anda melarangnya membeli mainan yang Anda nilai tidak cocok untuknya, jelaskanlah alasannya.

Kedua, jika Anda ingin memilihkan mainan yang Anda nilai cocok untuknya, terangkanlah kepadanya kelebihan-kelebihan mainan itu dan pastikan bahwa dia menyukainya. Tujuannya agar ia tidak merasa bahwa mainan itu dipaksakan untuknya. Sebagai contoh, katakanlah kepadanya, “Mainan ini lebih bagus daripada yang itu,” atau, “Ini adalah mainan temanmu itu. Lihatlah, pasti menyenangkan.”

Agar mainan yang kita beli bermanfaat dan mendidik bagi anak, hendaknya diperhatikan hal-hal berikut.

  1. Pastikan mainan itu dapat merangsang aktivitas fisik sehingga anak menjadi sehat;
  2. Pastikan mainan itu mampu memuaskan kecenderungan anak untuk bereksplorasi dan melakukan pengendalian;
  3. Upayakan mainan itu dapat dibongkar-pasang;
  4. Pastikan mainan itu dapat memotivasi anak untuk meniru peri- laku positif orang dewasa dan cara berpikir mereka.

Semoga artikel Bercengkerama dan Bermain Dengan Anak Ala Parenting Rasulullah ini bermanfaat bagI Ayah dan Bunda.

Baca juga:

=====

papamengasuh.id adalah Blog Parenting Indonesia, yang memberikan informasi mengenai pengasuhan dan parenting. Belajar bersama Papa Zaid, untuk meningkatkan kompetensi sebagai orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *