Jangan Paksa Anak Mengalah, Tapi Lakukan Ini Agar Tak Kena Dampak Negatif di Karakternya

Jangan Paksa Anak Mengalah, Tapi Lakukan Ini Agar Tak Kena Dampak Negatif di Karakternya

Jangan Paksa Anak Mengalah, Tapi Lakukan Ini Agar Tak Kena Dampak Negatif di Karakternya – Ayah bunda, sering kita mendengar seorang ibu mengatakan begini kepada anaknya, “Abang, mengalah dong sama adiknya. Abang kan sudah besar. Harus ngalah… Kasihan adiknya tuh, nangis.”

Hal itu biasanya terjadi, manakala dua orang anak atau lebih berebut memainkan mainan. Biasanya yang terjadi kemudian, si abang tadi kesal bukan kepalang. Dia kesal karena diminta mengalah. Padahal ia sudah sering lakukan itu, tapi tetap ketika kondisi berebut dengan adik sendiri, dia tak kuasa dan tak punya pilihan lain selain mengalah.

Jangan Paksa Anak Mengalah, Tapi Lakukan Ini Agar Tak Kena Dampak Negatif di Karakternya

Apa akibat jangka panjang bagi anak yang selalu diminta mengalah? Ternyata banyak dampak negatifnya lho, Aybun. Apa saja itu? Kita bahas satu-satu yuk. Ikuti terus sampai akhir tulisan ini ya. Saya juga akan beritahu, bagaimana sih seharusnya memberitahu anak, tanpa harus menyuruh dia mengalah.

Oh ya, saya hampir lupa. Biasanya tidak hanya abang atau kakak yang disuruh mengalah. Tapi juga kerapkali ada adik yang dipaksa untuk selalu mengalah, karena si abang atau kakak jika tidak dituruti kemauannya, ia tantrum nangis guling-guling dan bikin orangtua pusing. Maka, orangtua pilih jalan pintas. Seseorang harus mengalah. Celaka 12-nya, yang diminta mengalah itu hanya satu orang itu terus, karena sudah pernah baca pola bahwa dia mau mengalah kepada saudaranya yang lain. Jadilah ia korban harus mengalah seumur hidupnya.

Kembali ke topik. Dampak negatif selalu mengalah:
Pertama, si anak yang terbiasa mengalah tersebut, biasanya dia sebal bin kesal dengan saudaranya. Tidak tumbuh rasa kasih dan sayang kepada saudaranya itu, karena setiap di kondisi terjepit, pasti si ibu atau ayah belain saudaranya itu. Dan dia diminta mengalah demi saudaranya itu. Ini tentu bukan investasi rasa kasih-sayang yang baik buat tali persaudaraan di masa mendatang, manakala dia sudah besar. Tak jarang ada kecemburuan-kecemburuan perlakuan antarsaudara kandung karena salah satunya selalu dipaksa mengalah.

Kedua, si anak yang terbiasa dipaksa mengalah tersebut, konsep dirinya malah cenderung tidak kuat. Ia mudah didikte oleh orang lain. Mau itu dikte positif, maupun negatif. Default di otaknya yang terekam sejak kecil adalah “selalu mengalah” di setiap kesempatan. Efek negatifnya, anak-anak seperti ini berpeluang lebih besar untuk dibully orang-orang di sekitarnya, karena tidak mampu mempertahankan apa yang menjadi haknya. Padahal, seharusnya jika dia konsep dirinya bagus, dia tahu apa tujuan hidupnya. Dia tahu harus ngapain dan bagaimana.

Ketiga, anak-anak yang diminta selalu mengalah, cenderung fighting spiritnya lemah. Dia tidak mau memperjuangkan nasibnya. Nasib bagi dia adalah sebuah kepasrahan, tanpa perjuangan. “Biasanya juga aku ngalah….Udahlah….” Biasanya, orang di sekelilingnya malahan yang geregetan.

Sayangnya, hal ini berbahaya sekali. Meskipun dia kelak punya potensi, tapi ia tak mau neko-neko memperjuangkan nasibnya. Saat ada peluang promosi jabatan, ia tak mau mendaftarkan diri. Padahal kinerjanya bagus. Dia sudah puas dengan yang begini-begini saja. API di dalam spiritnya tidak panas. Tidak ada gelora semangat. Tidak ada hasrat untuk persistence memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya menjadi peluang emas baginya.
========
Nah, jika kita tidak boleh memaksa anak untuk mengalah kepada saudaranya, lalu apa langkah yang seharusnya kita lakukan? Bisakah anak yang tak disuruh mengalah, tapi dalam kasus perebutan mainan, anak bisa lebih tenang, tidak berantem? Ternyata jawabannya, BISA! Caranya?

Ini dia caranya!

Dalam sebuah kesempatan pulang dari pelatihan di Batutis Al-Ilmi, saya meriang hebat. Badan panas dingin. Tidak fit sama sekali. Padahal, besoknya harus launching modul training saya Childhood Optimizer Training. Bagaimana caranya agar segera fit? Sudah terbayang banyak hal yang bisa dilakukan. Mulai dari minum yang banyak, dikerok, dipijitin oleh Bu Andin yang cantik, minum madu, dan lain sebagainya. Saya sudah tidak kuat nyetir.

Hari itu puasa Ramadan. Setelah adzan Maghrib, saya minum air, minum obat Panadol, lalu “tewas” tertidur. Tidurnya tidak pulas. Antara ngelindur, mimpi, setengah sadar. Sayup-sayup saya dengar suara percakapan di mobil. Ada Afiqah, Manda Andin, dan Tante Icut. Saat itu, terpaksa Manda Andin yang nyetir mobil.

Saat kami hampir sampai di Kota Wisata, Afiqah tiba-tiba teriak girang gembira. “Hore….Afiqah siap-siap mau shalat Tarawih di masjid…..”

Seketika itu juga aku terbangun mendengar teriakan Afiqah. “Ya Allah, anakku lagi semangat-semangatnya ke masjid, mengisi malam-malam Ramadan dengan shalat berjemaah Maghrib, Isya, dan Tarawih. Masa sih harapan indahnya itu, seketika sirna, hanya karena aku sedang sakit? Bagaimana ini? What to do?”

Manda Andin membantu menjelaskan kondisiku pada Afiqah. “Afiqah, Pak Ading sedang sakit. Besok pak Ading harus tampil ngisi training. Jadi, malam ini kita tidak ke masjid dulu ya. Bantu-bantu pak Ading biar fit. Manda mau kerokin, pijitin pak Ading. Afiqah mau ikut bantu?”

Suasana jadi hening.

Saya menggeser sudut pandang mata saya ke arah kanan. Afiqah yang berdiri sambil tangannya memegang kedua kursi supir dan navigator, sekonyong-konyong berubah drastis. Wajahnya ditekuk. Bibirnya mecucu (manyun). Ada roman kecewa di wajahnya. Saya tahu ia tak senang dengan fakta bahwa rencana dan impiannya ingin tetap ke masjid setelah rutin kami lakukan tanpa putus saat itu, sirna tiba-tiba.

“Ya Allah, bagaimana ini? Mohon berikan jalan keluar….” Saya hanya bisa berbisik di dalam hati. Jangan biarkan hati anak hamba kecewa. Saya butuh sekali diberikan ide cling sebagai solusi. Apakah Tantenya, manda Andin, dan Afiqah ke masjid, sementara saya didrop pulang, atau bagaimanalah solusinya. Semua hal berputar-putar di dalam kepala yang masih kunang-kunang.
=========
Tanpa disangka-sangka, ternyata kejadian wajah ditekuk dan bibir manyun, hanya terjadi dalam hitungan menit.

Ketika suasana masih hening, tiba-tiba Afiqah berkomentar, “Ya udah. Afiqah memberikan kesempatan kepada Pak Ading. Kita gak jadi shalat Tarawih di masjid. Kita pulang, sembuhin Pak Ading. Pijit-pijit, kerok. Nanti Afiqah bantuin.”

Hah? Jleb. Makjleb. Tuing…

“Gak salah dengar ini saya? Ya Allah, di tengah kepusingan saya, ENGKAU yang maha segala-galanya, memberikan ide di kepala Afiqah untuk mau MEMBERI KESEMPATAN kepadaku istirahat di rumah, tidak perlu ke masjid.

Aku kaget bukan kepalang. Adrenalinku meningkat. Rasa pusing langsung hilang. Badan yang tadinya lesu, jadi lebih bugar. Rasanya baru saja disuntikkan “vitamin” dosis tinggi. Ini vitamin CINTA.

Afiqah, si anak kecil yang saat itu baru berusia 3 tahun, dia punya pola pikir yang super canggih. Dia sama sekali TIDAK MENGALAH! Tapi, dia MAU MEMBERIKAN KESEMPATAN. Itu adalah dua konsep yang berbeda, meski ujungnya sama: mengorbankan ego dan keinginan pribadi, untuk kepentingan yang lebih urgent.

Ini anak so sweet banget lho. Ini mental JUARA banget. Ini berkah dan anugerah banget dari Allah. I’m very proud of you, Afiqah.

Tidak semua orang bisa memakai konsepsi dan kerangka berpikir macam itu. Biasanya orang mengalah, lalu tetap dalam keadaan tidak ikhlas, alias manyun. Atau lebih parah lagi, langsung minta kompensasi hadiah tertentu untuk mengganti apa yang telah ia korbankan. Biasanya kebanyakan orang begitu. Kebanyakan orangtua mengajarkan anak bersikap demikian. Tapi Alhamdulillah, tidak dengan Afiqah.

Ini juga merupakan hasil dari pembiasaan dari sekolahnya di Batutis Al-Ilmi. Di sana, setiap ada “bentrok” rebutan suatu permainan ketika menjalankan metode sentra, anak biasanya ditanya oleh guru, “Ok. Di sini ada 2 anak yang mau memainkan alat permainan yang sama. Diantara berdua ini, siapa yang mau memberikan kesempatan kepada temannya terlebih dahulu?” Negosiasi berlangsung secara dewasa, sampai akhirnya tercapai kesepakatan tertentu. Entah si A yang memberi kesempatan terlebih dahulu, entah itu si B.

Anak didik benar-benar dibiasakan untuk berpikir positif dan berani mengambil inisiatif MAU MEMBERIKAN KESEMPATAN kepada orang lain. Ini mentalitas yang jarang dilatih di sekolah konvensional.

Ketika sudah benar-benar terbiasa dipraktikkan di sekolah, ternyata saat di luar sekolah, saat anak sudah kembali lagi ke kehidupan rumahnya, mentalitas itu muncul natural saat Afiqah menghadapi dilema antara mau tetap ke masjid seperti biasanya, atau mau menemani dan bantu pijit-kerokin pak Ading agar cepat sembuh dan fit buat launching program trainingnya besok pagi.

Di saat kejadian itu terjadi, saya merasa, di sanalah harga yang sangat MAHAL yang dimiliki seorang anak. Bukan kemampuan CALISTUNG (Baca-Tulis-Hitung), bukan menang-menangan lomba joget, mendapatkan piala dalam jumlah banyak, bukan keras-kerasan membacakan doa dan hapalan, tapi KARAKTER.

Karakter yang sangat matang, mampu menganalisis masalah, mampu menyusun skala prioritas, mampu berempati pada ayahnya yang sedang sakit, mampu switching dari bad mood ke good mood dalam waktu singkat karena masalahnya segera bisa diatur oleh hati dan perasaannya, di saat itulah saya merasa BERUNTUNG telah memutuskan untuk mendalami ilmu tentang mendidik anak usia dini, sampai ke akar-akarnya.

So, Aybun, mulai saat ini, jangan lagi pernah biasakan anakmu selalu MENGALAH. Tapi, biasakanlah dia untuk mengubah mindsetnya, dari MENGALAH, menjadi MAU MEMBERI KESEMPATAN kepada orang lain.

Sepertinya sama saja kelihatannya? Sepintas memang hampir mirip saja endingnya. Tapi, dari sisi kualitas, itu konsep yang berbeda. Bedanya dimana?

MENGALAH membentuk mentalitas pasrah, inferior, mudah tertindas, kurang fighting spirit. Sementara MAU MEMBERIKAN KESEMPATAN, itu mentalitas seorang pemenang, mau berempati, mau memotong ego atas kesadaran diri sendiri (bukan paksaan).

Kelak, anak-anak yang dibangun dengan pendekatan MAU MEMBERIKAN KESEMPATAN ini, akan tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin berkarakter kuat, tidak mudah digoyang, tidak mudah didikte, persistence memperjuangkan apa yang ia yakini kebenarannya, namun jika memang harus memotong ego, tak segan-segan memberi kesempatan kepada yang lebih membutuhkan. Ia bisa potong hawa nafsu berdasarkan kesadaran.

Dengan membiasakan pada anak untuk MAU MEMBERI KESEMPATAN (bukan mengalah lho ya…), mudah-mudahan calon-calon pemimpin muda masa depan yang saat ini masih berusia dini ini, paten terekam di dalam neuron otak dan myelin di otak serta ototnya, bahwa dia bukanlah orang yang gampang mengalah, tapi orang yang mau memberi kesempatan. Beda kelas, beda level, beda pula impactnya buat masa depan diri dan berbagai lingkungan kehidupan yang ia jalani kelak.

Jangan paksa anak mengalah..
=======
“Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!”

Penulis : Adlil Umarat (Pak Ading), Childhood Optimizer Trainer

JOIN FB grup: Optimasi Masa Kecil Anak  http://bit.ly/29uiEJs
Like Fan Page: Adlil Umarat Childhood Optimizer : http://bit.ly/29XHgyN
Web: www.childhoodoptimizer.com
E-mail: childhoodoptimizer@gmail.com
Twitter: @pukul5pagi
LinkedIn: Adlil Umarat

Semoga artikel Jangan Paksa Anak Mengalah, Tapi Lakukan Ini Agar Tak Kena Dampak Negatif di Karakternya ini bermanfaat bagi Ayah dan Bunda ^_^

====

Baca juga: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *