Mempelajari Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak

Mempelajari Kesalahan-Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak

Pada 22 April 2020, saya berkesempatan untuk mengikuti Kulwap atau Kuliah via whatsapp parenting dengan tema Mempelajari Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak. Kulwap ini dipandu oleh Pak Ading, Childhood Optimizer Trainer. Ada banyak ilmu yang saya ambil dari pembelajaran kali ini.

Berikut materi yang disampaikan oleh Pak Ading, yang disambut antusias oleh para peserta pembelajaran di grup Whatsapp.:

Ayah bunda, permasalahan paling berat dalam relasi orangtua-anak adalah perkara komunikasi. Banyak para orangtua yang begitu rajin ikut seminar ataupun workshop parenting, tapi begitu pulang ke rumah, menghadapi situasi-situasi yang pelik, lalu ia mudah terpancing untuk emosional ke anaknya. Sehingga, bentuk komunikasi yang dilakukan ke anak, banyak yang membuat anak tidak nyaman.

Ketika anak kita banyak mendapatkan bentuk-bentuk komunikasi yang membuatnya tidak nyaman, maka bisa jadi hal itu membuat dia tidak tumbuh optimal. Banyak orang dewasa yang tergagap-gagap menyampaikan idenya, karena dari kecil sering dibentak. Baru-baru ini saya mengoreksi ujian mahasiswa saya di sebuah universitas Islam di kawasan Blok M. Dari sana, jawaban-jawaban mahasiswa banyak yang ‘kosongan’, muter-muter, tidak jelas dan tidak ada jeda antara titik dan koma, tidak jelas mana subjek-predikat-objek-keterangan. Ini semua skill komunikasi. Jika kita gagal membangun skill komunikasi yang tepat pada anak, sampai besar dia akan menanggungnya. Tentu saja hal itu akan mempengaruhi kualitas kehidupannya kelak.

Belum lagi kalau ia sudah bekerja, sudah berumah tangga. Makin repot lagi jika anak kita punya skill komunikasi alakadarnya. Dalam sebuah kajian online bertema keluarga, banyak para istri mengadukan suaminya pendiam, suka memaksakan bahwa hanya dia yang benar tanpa memberi ruang untuk diskusi. Tentu saja, hal-hal seperti ini membuat istri maupun anak tidak nyaman di rumah. Istri dan anak dibuat selalu menerka-nerka. Alih-alih membangun komunikasi yang sehat, untuk berkomunikasi 2 arah saja membuat anak-istri ngeri-ngeri sedap dibuatnya. Akhirnya permasalahan-permasalahan di keluarga disimpan saja di dalam hati, dipendam, lama-lama jadi penyakit. Lama-lama makin membesar masalahnya dan MELEDAK tanpa ba-bi-bu lagi.

Mudah-mudahan kita semua di grup KULWAP ini berniat belajar memperbaiki skill dan teknik komunikasi kita di keluarga, agar membuat nyaman semua anggota keluarga. Bukankah tujuan dari pernikahan adalah sakinah, mawaddah, warahmah? Jika tidak ada ketenangan dan kenyamanan, lalu kita sejatinya sudah melenceng dari tujuan pembentukan keluarga.

Mempelajari Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak

====================

Nah, apa saja yang menjadi kesalahan-kesalahan umum orangtua dalam berkomunikasi dengan anak? Berikut saya sarikan dari hasil pengalaman 5 tahun terakhir saya concern mendalami dunia anak usia dini, dan program-program intervensi yang tepat dalam membangun anak di rumah. Mudah- mudahan, ketika kita tahu kesalahan-kesalahan tersebut, kita bisa sadar dan segera memperbaikinya jika hal itu terjadi pada diri kita dan keluarga kita. Dari 25 KESALAHAN-KESALAHAN KOMUNIKASI ORANGTUA TERHADAP ANAK, Pak Ading akan share beberapa diantaranya di KULWAP ini.

Pertama, direct melulu. Maksudnya? Dalam komunikasi, orangtua selalu men-direct anaknya alias mengarahkan terus anaknya. Dia langsung memberitahu apa yang harus dikerjakan anaknya. Pada kasus lain, orangtua yang otoriter, merasa dirinya paling benar, paling banyak memakan asam-garam kehidupan, dibandingkan anaknya. So, anak harus manut kepada apapun perkataan orangtua. Ketika anak balik bertanya, orangtua menganggap itu sebagai bantahan, keras kepala, melawan, dan lain sebagainya. Hal ini kurang bagus buat perkembangan anak, karena anak akan mengalami minus inisiatif. Dia tidak terbiasa berpikir pada solusi jika menghadapi masalah di kemudian hari. Yang ada, ketika mendapat masalah, dia akan menunggu-menunggu-menunggu. Padahal, zaman now, kita butuh orang yang inisiatifnya tinggi jika ingin berperan besar.

Kedua, komunikasi HANYA 1 arah. Orangtua tidak memberi jeda kepada anak untuk merespon apa pesan yang disampaikan orangtua. Belum sempat menjawab, anaknya sudah diberondong pertanyaan yang bejibun jumlahnya. Jadilah orangtua yang memberi kesempatan kepada anak untuk menjalankan critical thinkingnya. Biar dia kepake otaknya untuk menghubungkan data yang ia terima. Tidak melulu menerima doktrin-doktrin belaka, agar otaknya sehat, banyak koneksi di neuronnya.

Mempelajari Kesalahan-Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak - Elemen Penting Dalam proses komunikasi
Mempelajari Kesalahan-Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak – Elemen Penting Dalam proses komunikasi

 

Ketiga, bernada kelewat tinggi di 5 oktaf. Orangtua kerap kali bicara dengan nada tinggi kepada anak. Dia berharap, dengan nada tinggi, anaknya langsung patuh, manut, langsung mengerjakan apa yang diperintahkan. Memang, anaknya akan patuh saat itu, tapi sesungguhnya dia merasa tidak nyaman. Bisa jadi dia patuh karena takut saja. Ketika orangtuanya sudah tidak ada, dia akan 180 derajat berbalik arah melakukan apa-apa yang dilarang, dan tidak melakukan apa-apa yang disuruh orangtuanya. Untuk itu, bicaralah dengan nada 2 oktaf. Itu seperti orang sedang duduk berdampingan, lalu berbicara secukupnya agar suara terdengar ke orang sebelahnya. Seperti orang menyapa orang lain di sampingnya ketika menunggu bus di halte, “Ibu mau kemana?” Tidak mungkin kita teriak-teriak menanyakan orang untuk basa-basi bukan?

Keempat, bicara penuh amarah, sehingga pesan inti yang ingin disampaikan malah tertutupi. Banyak orangtua sudah terpancing amarahnya, lalu pakai nada tinggi, dan berteriak-teriak memanggil nama anaknya, disertai suara yang parau. Sementara, si anak mendengarnya kaget, takut, dan ketika ia dengarkan lebih jelas lagi, ternyata ia tak menangkap apa esensi dari pesan yang disampaikan orangtuanya. “Sebenarnya orangtuaku itu maunya apa sih?” Itu pesannya belum mampu ditangkap anak, keburu dia sudah ketakutan mendengar suara tinggi, suara parau, muka merah padam. Akhirnya, yang terdelivery ke anak secara paripurna dan sempurna adalah RASA AMARAH. Rasa amarah itu, selalu saja bikin anak tidak nyaman, bahkan sampai trauma.

Kelima, no eye-contact sama sekali. Banyak orangtua kalau bicara dengan anaknya dari jauh saja, tanpa tatap mata anaknya. Persentase kegagalan anak memahami pesan jadi lebih tinggi tanpa tatap mata. Jika Anda ingin menyampaikan hal penting, pastikan Anda tatap mata anak Anda. Lebih keren dan efektif lagi, jika Anda tatap mata anak Anda dari jarak 45 cm jika pesan yang Anda ingin sampaikan itu, begitu penting. Insya Allah pesannya akan jauh lebih mudah sampai, dibandingkan teriak-teriak dari jauh. Saat ibunya di dapur, dan anaknya ternyata di teras, lalu ibunya teriak, “Tong, tolong beliin mamak bawang merah di warung sebelah ya…. Ini ambil uangnya ke sini…” Bisa saja anak paham pesan kita, tapi kita sedang mengajarkan cara komunikasi yang TIDAK HORMAT kepada anak kita. Ia kelak meniru hal yang sama kepada orang lain.

Keenam, eye-level tidak sama. Banyak orangtua bicara dengan anaknya yang masih kecil dengan mata yang tidak sama levelnya. Orangtua berdiri, tinggi posisinya, sementara anak ada di bawah dan dia harus mendongak melihat orangtuanya di ketinggian. Pesan yang terselubung dari posisi berdiri orangtua-anak ini adalah orangtua sebagai bos, tuan, raja, sementara anak adalah jongos, pesuruh, rakyat jelata. Relasi yang tercipta seperti master and slave (tuan dan budak). Derajatnya sudah beda jauh. Jika hal ini berlangsung terus, anak bisa jadi takut ke orangtua. Ada masalah, dia akan pendam. Lama-lama jadi bibit penyakit karena hormonnya tidak stabil. Ada masalah dipikirin terus, tanpa dibicarakan atau dicari solusinya. Sebaiknya, orang dewasa jongkok menyesuaikan posisi tinggi anak ketika bicara dengan anak tersebut. Setarakan level mata Anda!

Ketujuh, not being present. Tidak hadir jiwanya saat bicara dengan anak. Jika kita ingin pesan kita efektif sampai dan dipahami dengan cepat oleh anak, maka jadilah orangtua yang hadir sepenuhnya dan seutuhnya bersama anak saat kita menyampaikan pesan tersebut. Jangan disambi dengan pikiran kita melayang-layang ke urusan kantor, masakan yang apakah gosong atau tidak. Hapus itu semua. Hadirlah buat anak saat Anda bicara dengan anak. Ini terkait dengan SOUL yang ingin kita hadirkan dalam interaksi.

Kedelapan, ketika diajak bicara oleh anak, orangtua sering menyambi dengan kegiatan tertentu. Misalnya sambil main hape, sedang memasak (wah, tanggung nih nanti gosong masakanku), tidak fokus, mengerjakan tugas lain. Hal yang lebih baik ketika kita diajak anak bicara adalah dengan berhenti dari kegiatan tersebut. Taruh hape, berhenti masak, fokus menghadapi anak. Dengan demikian, kita sedang mengajarkan kepada anak kita untuk HORMAT kepada lawan bicara. Ini bagian dari berlatih atentif dalam komunikasi dengan orang lain. Ini attitude yang mahal.

Kesembilan, melarang anak untuk menangis. Banyak orangtua melarang anaknya menangis. Padahal, menangis adalah bagian dari penyaluran emosi seseorang dengan merilisnya. Apakah masalah besar jika seseorang menangis? Sebenarnya tidak juga. Semua orang boleh menangis. Mau itu anak laki-laki, ataupun perempuan. Menangis menjadi barometer bahwa hatinya masih ada sensitifitas tingkat tinggi. “Silakan menangis jika itu membuat hatimu nyaman, nak. Tapi pastikan segera regulasi diri ya.” Itu jauh lebih baik, agar anak kita tidak kaku atau beku hatinya.

Kesepuluh, tidak menyelesaikan masalah dengan lari/ menghindar/ ngibulin anak. Misalnya anak kita jatuh di bebatuan. Lalu kita melihat kejadian itu. Setelah itu, kita ingin membuat anak tenang, tidak menangis. Kemudian kita berusaha alihkan ke hal lain, “Lihat ada pesawat tuh…?” Padahal tidak ada pesawat. Jika anak jatuh, beri rasa empati terlebih dahulu. “Sakit ya? Kita obati dulu ya. Mama paham, pasti sakit jika kena batu begini,” lalu follow up dengan mengobatinya.

Kesebelas, orangtua sering membanding-bandingkan anak dengan anak lainnya, dengan kondisi orangtua di zaman dulu. Misalnya, “Mama dulu tuh, Matematika 100 terus. Masak kamu dapat nilainya segini doang? Bikin malu aja.” Tidak ada orang yang senang dibanding-bandingkan, termasuk anak kecil sekalipun. Selain sudah beda zaman, juga kompleksitas dan tantangan kehidupan juga sangat berbeda jauh dibandingkan zaman dulu. Ketika Anda membandingkan ananda dengan saudara kandung, saudara sepupu, dia akan punya 2 respon. Jika anak kita kuat mental, dia akan tetap percaya diri. Kalau anak kita lemah mental, dia akan drop, jadi minder.

Keduabelas, menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang tidak masuk akal. “Ayo minum obat, ada anjing ada anjing” Maka, si anak baru mau minum obat jika ada anjing. Saat tak ada anjing, dan anak dalam keadaan sakit, maka orangtua kesulitan meminta anaknya minum obat. Harus cari anjing dulu, baru anak mau minum obat, karena ia takut anjing. “Awas polisi…. Ayok makan ada polisi. Nanti kamu ditangkap lho…” “Kalau gak pulang, nanti kamu disuntik dokter lho…” Itu contoh-contoh pembodohan yang tidak masuk akal, dan anak jadi mengalami distorsi dalam berpikir dan bertindak.

Ketigabelas, nanya sendiri, jawab sendiri. Misalnya, “Kamu mau dimasakin sayur apa hari ini? Kangkung atau bayam?” Pas anaknya jawab kangung, orangtuanya langsung balas, “Ah, kalau kangkung mah bikin ngantuk. Jangan. Sayur bayam aja ya….” Kalau tahu begitu, anak juga ogah menjawab. Kenapa? Karena orangtuanya nanya sendiri, jawab sendiri. Jika ikut Ujian Nasional, insya Allah nilainya paling tinggi, karena bisa bikin soal sendiri, yang ia jawab 100% benar.

Nah, Ayah bunda, jika kita renungkan lebih dalam, mana poin kesalahan yang paling sering kita lakukan dalam berkomunikasi dengan anak kita?

===================

“Karir Menanjak Maksimal, Anak Tumbuh Optimal!”

Penulis adalah Pak Ading, seorang Childhood Optimizer Trainer. Ia melatih para orangtua muda untuk mampu meningkatkan kapasitasnya sebagai orangtua yang mampu mengoptimalkan masa kecil anaknya dalam membangun karakter anak, melalui 2 strategi: strategi komunikasi dan strategi bermain. Melalui 2 strategi tersebut, diharapkan orangtua mampu membangun BONDING yang kuat dengan anak, sehingga mampu memfasilitasi tumbuh-kembang anak secara optimal dan siap menjadi BONUS DEMOGRAFI 2045 yang merupakan BERKAH buat bangsa kita, bukan sebagai MUSIBAH. Fokus Pak Ading adalah mengobservasi, meneliti, dan merumuskan modelling terbaik dari ‘program intervensi’ yang pas untuk membangun karakter-karakter positif pada diri anak usia dini dalam pengasuhannya di rumah & sekolah.

.

Follow akun socmed dengan konten bermutu:

JOIN FB grup: Optimasi Masa Kecil Anak: klik http://bit.ly/29uiEJs

Like Fan Page: Adlil Umarat Childhood Optimizer, klik http://bit.ly/29XHgyN

LinkedIn: Adlil Umarat

Instagram: @adlilumarat IG: @harrifirmansyahr IG: @HIGHPERFORMA

===========

Semoga artikel Mempelajari Kesalahan Orangtua Dalam Berkomunikasi Terhadap Anak ini bermanfaat bagi Ayah Bunda. ^__^

Baca juga artikel lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *