Mengenal dan Pengertian Stimulasi Pada Balita

Mengenal dan Pengertian Stimulasi Pada Balita

Mengenal dan Pengertian Stimulasi Pada Balita – Saat ini, 20 April 2020, Zaid masih berumur 13 bulan. Keingintahuan saya tentang pengenalan terhadap balita sangat tinggi. Kenapa ini sangat penting, seperti yang orang sering katakan, “Tak Kenal maka Tak Sayang”. Oleh karena itu, untuk lebih menyayangi anak saya, saya harus kenal dekat dengan karakter dari balita.

Dengan modal yang kuat, saya kumpulkan beberapa informasi mengenai balita dari berbagi sumber. Kali ini, saya mendapat ilmu baru yang sangat bermanfaat, saya kutip dari buku “Stimulus Berbahaya bagi Balita Anda” yang ditulis oleh Yunita Sari, M.Psi dan Ihsan Satyanugraha.

Mengenal dan Pengertian Stimulasi Pada Balita

Pengalaman pada anak balita, banyak diperoleh dari lingkungan yang disediakan oleh orang dewasa, khususnya keluarga dan orang tua mereka, sehingga interaksi yang terjadi antara lingkungan dan hereditas lebih bersifat pasif.

Pada artikel sebelumnya yang berjudul Pengertian dan Mengenal Stimulasi Tumbuh Kembang Anak , terdapat penjelasan mengenai faktor hereditas (gen) dan lingkungan yang berperang penting dalam pekermbangan anak.

Maka dari itu, orang tua sebagai lingkungan pertama dan pengasuh utama bagi balita dalam mengenal dunia, memegang peran yang sangat penting untuk memberikan stimulasi. Orang tua sebagai lingkungan di luar individu dapat memberikangan rangsangan pada buah hatinya (sambil bermain, dalam suasana gembira, serta penuh kasih sayang).

Aktivitas bermain dan suasan cinta ini menjadi penting untuk merangsang sistem indra, melatih kemampuan motorik, komunikasi, serta kognitif anak.

Stimulasi kepada anak dapat dimulai sejak calon bayi berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan, janin sudah dapat bernafas, menendang, menggeliat, bergerak, menelan, mengisap jempol, dan lainnya. Selain itu, sel otak pada bayi dibentuk sejak enam bulan masa kehamilan.

Oleh karena itu, proses stimulasi sudah bisa dan harus dilakukan semenjak janin berusia 23 minggu. Banyak hal yang dapat dilakukan orang tua dalam memberikan stimulasi bagi janinnya, seperti rangsangan suara, gerakan perabaan, berbicara, menyanyi, dan bercerita. Semakin dini dan semakin berkelanjutan stimulasi itu dilakukan, akan semakin besar manfaatnya bagi anak.

Sementara itu, orang tua dapat memberikan stimulasi utama setelah anak lahir, terutama pada masa golden age.

Masa golden age adalah momen atau masa peka belajar seorang anak, saat 50% kecenderungan belajar disemai pada usia 0-6 tahun. Hal ini terjadi karena perkembangan otak anak begitu pesat dalam menerima informasi. Pada masa ini, anak menyerap segala bentuk pembelajaran dan tingkah laku di lingkungannya, sehingga perangsangan positif dan optimal sangat mutlak diperlukan karena memengaruhi sifatnya pada masa depan.

Banyak stimulasi yang dapat diberikan oleh orang tua kepada buah hati tercinta pada awal kelahiran, seperti:

  • memeluk,
  • menggendong,
  • mengajak tersenyum
  • berbicara,
  • membunyikan berbagai suara atau musik bergantian,
  • menggantung dan menggerakkan benda-benda berbunyi,
  • menggulingkan bayi ke kanan dan ke kiri, atau tengkurap-telentang
  • dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Berbagai stimulasi penting pada awal-awal kelahiran adalah melakukan stimulasi pada alat indra: indra pendengaran, indra penglihatan, indra perabaan, indra pengecapan, serta indra penciuman. Alat indra ini merupakan sarana pertama bayi belajar dari lingkungan. Misalnya, dengan bermain kerincingan untuk melatih indra pendengaran, mainan gantung di boks bayi untuk melatih indra penglihatan, boneka halus untuk melatih indra perabaan, dan lain-lain.

Selain alat indra, orang tua juga dapat merangsang motorik (gerak kasar, seperti duduk, merangkak, berdiri, berjalan, melompat, dan gerak halus tangan serta jari-jari, seperti menggenggam, memegang sendok, mengajak berkomunikasi, serta merangsang emosi yang menyenangkan.

Stimulasi atau rangsangan yang dilakukan sejak lahir secara terus menerus dan bervariasi dengan suasana bermain dan kasih sayang, tentu akan memacu tumbuh kembang dan kecerdasan anak. Orang tua dan keluarga hendaknya memberikan stimulasi tersebut setiap memiliki kesempatan berinteraksi dengan bayi dan balita. Misalnya, ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, memberi makan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, dan laiinnya.

Gimana Ayah bunda, sudah mulai paham dengan Stimulasi Pada bayi atau Balita? Ini bisa dilakukan oleh orang tua, agar perkembangan bayi bisa baik.

Semoga artikel  Mengenal dan Pengertian Stimulasi Pada Balita ini bermanfaat. Silahkan di Share ^_^

Silahkan di follow, akun Instagram @Fey777

Baca juga:

Ciri dan Karakteristik Ayah Pendidik Dalam Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *