Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini – Ayah Bunda, pada kesempatan ini, papamengasuh.id akan memberikan informasi mengenai yang ditulis oleh Amelia Vinayastri dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Semoga tulisan makalah mengenai parenting ini memberi pencerahan kepada kita sebagai orang tua, dan memberikan keyakinan betapa pentingnya pola asuh (parenting) orang tua bagi perkembangan otak anak-anak kita. Berikut penjelasannya:

Manusia diciptakan Allah SWT dalam bentuk yang sempurna.  Perbedaan dengan makhluk ciptaan Allah lainnya adalah otak. yang merupakan perlengkapan tubuh manusia maha penting karena berfungsi sebagai pusat kendali kehidupan manusia baik secara lahir maupun secara batin. Perkembangan otak telah dimulai 3-4 minggu pada masa kehamilan dan semburan perkembangannya sampai usia 6 tahun oleh karena itu disebut masa keemasan.

Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui dan membahas mengenai:

  1. Perkembangan Otak,
  2. Peranan pola Asuh Orang Tua, dan
  3. Intervensi dini terhadap perkembangan otak anak.

Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa deskripsi fenomena-fenomena yang terjadi baik alami ataupun buatan manusia.

Dapat disimpulkan bahwa:

  1. Kecenderungan kepribadian anak beragam telah terlihat sejak usia dini,
  2. Pengalaman pertama sangat penting untuk perkembangan otak dengan demikian orang tua harus sangat menyadari peranan pentingnya dan mengasuh otak anak
  3. intervensi dini terhadap perkembangan otak lebih mempengaruhi dibandingkan intervensi pada masa dewasa karena perkembangan otak terjadi dengan cepat pada usia 0-6 tahun bahkan dimulai sebelum kelahiran.

PENDAHULUAN

Latar belakang penulisan makalah ini adalah bahwa dalam kehidupan keseharian anak-anak mempunyai perilaku yang berbeda-beda, ada anak yang mandiri, mudah beradaptasi, mudah bersosialisasi, tidak mudah menangis, disiplin rajin dan cerdas, anak yang sangat tergantung pada orang tuanya atau gurunya, pendiam, pemurung, mudah menangis, dan kurang responsif.

Beragam perilaku tersebut menimbulkan pertanyaan yang perlu ditindaklanjuti yakni, mengapa hal ini dapat terjadi? Bahkan dalam satu keluarga sekalipun dimana anak pertama berbeda perilakunya dengan anak kedua. Meskipun setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci belum ternodai, Lingkungan berperan besar dalam menorehkan tinta dalam kehidupan mereka.

Dengan demikian ,kecenderungan kepribadian yang beragam telah terlihat sejak masa usia dini.

Manusia diciptakan Allah SWT dalam bentuk yang sempurna.. Salah satu bagian tubuh manusia yang membedakan manusia dengan ciptaan Allah SWT yang lain adalah otak yang merupakan perlengkapan tubuh manusia maha penting karena berfungsi sebagai pusat kendali kehidupan manusia baik secara lahir maupun secara batin.

Perkembangan otak telah dimulai 3-4 minggu pada masa kehamilan dan terus perkembangan sampai usia 6 tahun oleh karena itu disebut masa keemasan Menurut Sunderland (2006:18) bahwa kondisi lain yang seringkali dijumpai banyaknya orang dewasa yang tidak memiliki manajemen stress yang baik karena tidak ada seorangpun yang membantunya mengatasi stress dan tekanan yang dialami pada masa kanak-kanak sehingga mereka tidak secara efektif mengatur stress di dalam otaknya.

Sunderland (2006:10) menyatakan kondisi ini disebut sebagai orang dewasa yang terperangkap dalam otak anak-anak. Selanjutnya Sunderland (2006:12) menyatakan bahwa:

“Parent are not magicians. They can’t guarantee their children happiness in later life or protect them from loss and rejection. But they can dramatically influence system in their children’s brain”

Artinya: Orang tua bukanlah pesulap dan tidak dapat menjamin bahwa anak-anaknya akan selalu bahagia serta tidak akan mengalami kesedihan dan kehilangan namun orang tua mempunyai pengaruh luar biasa dalam perkembangan otak mereka. Dengan demikian, orang tua beserta lingkungan keluarga terdekat memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan dasar kepribadian dan kecerdasan anak. Pengaruh pola asuh (parenting) orang tua dalam perkembangan otak anak terutama selama 1000 hari pertama dalam kehidupan anak.

Tujuan Penulisan ini adalah untuk mengetahui dan membahas tentang:

  1. Perkembangan otak yang terbentuk pesat semenjak berada di dalam kandungan ibunya,
  2. Peranan orang-tua dan lingkungan terhadap perkembangan otak yang sangat dipengaruhi oleh pahatan pertama di dalam kehidupannya,
  3. Pentingnya intervensi dini terhadap perkembangan otak karena otak adalah kelengkapan manusia yang sempurna dan membedakan dengan ciptaan Allah SWT lainnya.

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu melakukan penggambaran apa adanya variabel, gejala, ataupun sebuah keadaan. Salah satu jenis penelitian deskriptif adalah studi perkembangan yakni studi yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang dapat dipercaya tentang sifat-sifat anak pada berbagai usia, perbedaan mereka dalam tingkatan-tingkatan usia itu, serta cara mereka tumbuh dan berkembang. Hal ini tergambarkan pada makalah ini yaitu adanya proses pembentukan otak sejak di dalam kandungan sampai 3 tahun pertama kehidupan mereka dan melakukan penggambaran dengan bertahap perkembangan anak pada periode usia tertentu.

Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini
Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini

PEMBAHASAN

Tujuan dan   Fitrah   Penciptaan Manusia

Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa ayat 1, ”Wahai manusia. Bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya dan dari keduanya Allah memperkembangkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

Allah SWT menciptakan Nabi Adam dari sari pati tanah dan menciptakan    Siti    Hawa  dari                    dirinya        dan memperkembangkan manusia dari keduanya yang oleh karenanya unsur-unsur penciptaan manusia, siapapun dia, berasal dari sari pati tanah yang sama.

Hal ini menandakan bahwa Ayah yang sama dengan ibu yang sama dengan proses pembuahan yang sama ternyata tidak melahirkan jenis anak yang sama dan sifat-sifat yang sama. Kapan seseorang mulai berbeda dengan orang lain, apakah pada saat bayi, atau pada masa kanak-kanak, atau pada saat pemuda, atau pada saat dewasa atau bahkan setelah menjadi orang tua ?

Banyak rujukan yang dapat menjawab semua pertanyaan di atas, namun ternyata bahwa pada setiap detik dalam kehidupan, seorang anak dapat saja berubah akibat adanya rangsangan baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun yang berasal dari luar diri sendiri. Peranan rangsangan baik dalam diri maupun lingkungan diperkuat sebagaimana sabda

Rosulullah (Hadits Riwayat Bukhari) yang berbunyi “Tiap bayi/anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah). Ayah dan ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”

Dunia terdiri dari negara maju, negara berkembang dan negara yang belum berkembang. Negara-negara maju berusaha mempertahankan jati dirinya sebagai negara adi daya yang berkehendak memimpin dunia, sementara negara berkembang berusaha sekuat tenaga menjadi negara maju dan negara yang belum berkembang berusaha menjadi negara berkembang.

Percaturan perkembangan politik dan ekonomi dunia tidak sesederhana seperti apa yang dibayangkan sebab sekelompok orang yang berkuasa dalam sebuah negara, mempunyai sifat yang berbeda dari kelompoknya, kalau kelompok ini baik maka akan baiklah negara tersebut, namun sebaliknya bila kelompok ini tidak baik maka tidak baiklah negara itu.

Baik atau tidak baiknya kelompok ini sangat dipengaruhi oleh orang-orang dalam kelompok ini. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan satu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri“ Al Qur’an Surat Ar-Rad ayat 11.

Dengan demikian pembentukan akhlakul karimah semenjak dini merupakan keharusan sehingga mereka (anak-anak) yang nanti akan tumbuh menjadi seorang pemimpin menjadi khalifah yang mampu memimpin dunia dengan kearifan.

Setiap orang tua, terutama mereka yang masih memiliki bayi dan atau anak-anak yang masih di bawah usia emas, serta para calon orang tua harus menyadari sepenuhnya mengapa Allah SWT berkenan menciptakan kita dan anak-anak kita sebagai generasi penerus.

Allah SWT berfirman pada Surat Al Baqarah ayat 30 “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi”. Sedangkan surat Az’Zariat ayat 56 Allah berfirman “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Dengan demikian tujuan penciptaan manusia agar manusia menjadi khalifah (wakil) Allah dimuka bumi dalam rangka memakmurkan bumi agar bumi memberikan kehidupan yang nyaman dan menyenangkan bagi penghuninya sehingga mereka dapat melaksanakan peribadatan kepada Allah, dengan sebaik-baiknya.

Oleh karenanya, orang tua semaksimal mungkin berkewajiban membesarkan dan mendidik anak- anak mereka agar menjadi generasi penerus, sehingga fungsi kekhalifahan (bukan fungsi penguasaan atau ekplorasi) dapat terus berlanjut dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Allah SWT berfirman pada Surat

At Tin ayat 4 “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya”.

Manusia adalah makluk yang secara kodrati mempunyai kelengkapan tubuh yang sangat baik, berbeda dengan makluk yang lain seperti binatang. Sistem tubuh manusia (kerangka, otot, saraf, endokrin, peredaran darah, nafas, kulit, rambut, kuku, sistem kekebalan tubuh, pencernaan, urin dan reproduksi) bekerja bersama-sama seperti mitra sejati – masing-masing memenuhi fungsi hidupnya, tapi semua bekerja sama untuk selalu sehat dan efisien (Parker,2009:12). Bentuk tubuhnya yang langsing dengan sepasang tangan dan sepasang kaki menyebabkan ia mudah bergerak secara vertikal maupun horizontal. Sepasang mata dapat digunakan secara baik di siang hari dan dengan latihan dan konsentrasi yang tinggi dapat menembus pekatnya malam. Sistem pencernaannya mampu menghasilkan energi yang cukup untuk waktu tertentu, namun dapat pula untuk bertahan hidup dalam situasi yang kritis.

Sistem peredaran darahnya mampu menyebarkan energi yang dihasilkan keseluruh bagian tubuh dan sekaligus menjaga suhu tubuh tetap stabil pada berbagai kondisi (cuaca) berbeda. Sistem syaraf yang rumit yang menghubungkan otak dengan kelengkapan tubuh serta berbagai keistimewaan lainnya menjadikan manusia menjadi makluk yang secara fitrah tercipta secara sempurna.

Otak Manusia

Otak terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri namun tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya yaitu:

Bagian pertama adalah Batang otak (otak primitif); yang berfungsi sebagai pengatur agar tubuh bergerak sebagaimana mestinya dan bereaksi dengan cara yang tidak membahayakan kelangsungan hidup. Bagian ini berhubungan dengan prilaku berdasarkan insting untuk mepertahankan hidup yang telah terbentuk sejak dan sebelum kelahiran. Itulah sebabnya mengapa bayi yang baru lahir langsung dapat bernafas, merasa haus dan menangis. Bagian ini hampir tidak dapat diubah.

Bagian kedua adalah amigdala; yang berfungsi untuk mengingat kembali emosi kuat yang berhubungan dengan ingatan kejadian. Bagian ini berhubungan dengan prilaku emosional manusia yang juga telah terbentuk sejak dan sebelum kelahiran seperti rasa takut, perhatian, sosialisasi dan lain-lain. Bagian ini dapat diubah dan atau dikendalikan untuk kemanfaatan yang lebih baik bagi kehidupan individu, misalnya rasa marah yang tidak terkendali akan menuai pertengkaran dan bahkan pertarungan dan atau pembunuhan. Namun rasa marah yang dikendalikan akan menumbuhkan kemampuan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.

Bagian ketiga adalah neokortek yang dikenal sebagai otak berfikir; berhubungan dengan prilaku pengembangan diri manusia yang belum terbentuk dan akan terbentuk sesuai dengan pengaruh yang didapatnya setelah lahir dan yang secara sendiri dikembangkan oleh dirinya sendiri seperti kreativitas, imaginasi, pemecahan masalah, refleksi dan lain-lain. Pada neokortek, Allah SWT menfasilitasi adanya beberapa tempat bertumbuhnya kecerdasan jamak (multiple intelligence) seperti kecerdasan verbal linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan visual spasial, kecerdasan jasmaniah kinestetik, kecerdasan berirama musik, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalistik dan kecerdasan eksistensial spiritual (Goleman,1997:13).

Kecerdasan jamak akan berkembang dengan adanya hubungan-hubungan dengan pihak luar (terutama orang tua dimasa usia emas) yang dibangun secara ikhlas, intensif dan efisien. Bertambah luas hubungan yang dibangun, bertambah tinggi kecerdasan yang tumbuh. Salah satu bagian dari kecerdasan jamak adalah kecerdasan Spiritual, yang diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia” (Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim,2013:11).

Konsep Dasar Awal Perkembangan Otak Ringkasan singkat singkat melingkupi konsep dasar dalam perkembangan awal otak menurut The National Symposium on Early Childhood Science and Policy (Papalia & Fieldman,2014:130),     sebagai berikut:

1. Otak Dibangun dari Waktu ke Waktu, dari Dasar ke Atas

Otak tidak muncul dengan bentuk yang penuh di masa dewasa. Di mulai sekitar 3 minggu setelah pembuahan, otak berkembang dari tabung berongga panjang yang berbentuk bulat pada sel. Dengan demikian konstruksi otak dimulai pada masa janin dan semburan pertumbuhan (growth spurt) otak yang dimulai pada sekitar trisemester ketiga kehamilan dan berlanjut sampai setidaknya tahun ke-4 kehidupan dimana hal ini sangat penting untuk perkembangan fungsi saraf.

Otak dibangun dari jutaan pengaruh dan interaksi yang dialami setiap individu dan kemampuan di masa mendatang. Pengalaman pertama sangat menentukan dan diorganisasikan saat sensasi pertama yang membentuk persepsi, bahasa, dan fungsi kognitif. Hal tersebut menekankan bahwa orang tua terutama ibu merupakan peletak dasar pengaruh perkembangan otak anak melalui interaksi baik positif maupun negatif.

Kehangatan emosional ibu dengan janin merangsang 250.000 neuron (belum matang) yang telah diproduksi setiap menit melalui pembelahan sel pada bulan kedua kehamilan. Saat lahir, sebagian besar lebih dari 100 milar neuron di otak yang matang sudah terbentuk, tetapi belum sepenuhnya dikembangkan (Papalia & Fieldman,2014:132). Jumlah neuron meningkat paling cepat di antara minggu ke-25 kehamilan dan beberapa bulan setelah lahir. Perkembangbiakan sel ini disertai dengan pertumbuhan dramatis dalam ukuran sel.

2.    Pengaruh Interaktif Gen dan Pengalaman Membentuk Perkembangan Otak

Bayi yang ditempatkan dalam dunia sosial yang kaya dan hangat akan mendukung pertumbuhan otak dibandingkan dengan lingkungan yang kaku dan keras. Lingkungan yang kaku dan keras akan membatasi perkembangan anak-anak dengan permanen. Meskipun otak telah memiliki blue print secara genetis, pengaruh lingkungan secara bersama-sama juga menentukan arah perkembangan otak anak. Dukungan sosial orang tua dan bimbingannya dalam menuntun anak menghadapi kehidupannya memiliki pengaruh positif yang menjadi bekal kearah kemampuan masa depan.

3. Kapasitas Otak untuk Perubahaan Menurun Sesuai dengan Usia

Otak manusia tetap elastis dan mampu berubah sepanjang rentang kehidupan, tetapi fleksibilitas ini lebih banyak terjadi di awal kehidupan. Lingkungan memiliki efek yang mendalam pada awal perkembangan otak daripada di kemudian hari. Berbagai penelitian dan literatur menyatakan 0-5 tahun adalah masa keemasaan (golden age) karena semburan perkembangan otak 80 % terjadi pada masa tersebut. Pengalaman yang terukirkan pada masa tersebut akan lebih bermakna dan berkesan dibandingkan pada masa dewasa. Oleh karena itu sangat ditekankan pemberiaan pendidikan yang tepat pada masa keemasaan tersebut.

4. Kapasitas Kognitif, Emosional dan Sosial yang Erat Terjalin Sepanjang Kehidupan Hidup

Otak bekerja secara kompleks, saling terkait, organ dinamis yang bekerja sebagai suatu kesatuan yang utuh. Semua perkembangan terintergrasi dalam satu otak karena semua informasi yang diterima oleh otak direspon keseluruhan di dalam tubuh anak. Sebagai contoh, Bayi yang tanpa merasa aman dan dicintai, cenderung kurang untuk mengeksplorasi lingkungan, membatasi mereka belajar tentang lingkungannya. Otak mendukung semua aspek perkembangan yang terjadi pada setiap individu.

Apabila terjadi hambatan pada satu aspek dipastikan akan mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. Sebagai contoh, anak berusia 4 tahun yang mengalami keterlambatan bahasa tidak mampu berinteraksi dengan teman-temannya sehingga mempengaruhi perkembangan sosial emosionalnya karena apa yang diinginkannya tidak dipahami oleh lingkungan sekitarnya. Meskipun otak terbagi menjadi beberapa bagian, namun mempunyai cara kerja yang kompleks dan intergratif.

  1. Racun Stres Merusak Perkembangan Bentuk Otak

Menurut Sunderland (2006:30), racun stress dapat menyebabkan masalah dalam belajar, perilaku, kesehatan fisik dan mental seumur hidup. Tubuh manusia beradaptasi dengan baik untuk yang berurusan dengan waktu stresor terbatas, tapi tubuh kita tidak dibuat untuk menangani stres kronis secara Stres jangka panjang sangat merusak tubuh manusia secara keseluruhan dan dapat memiliki efek yang sangat kuat pada otak muda.

Sayangnya banyak anak yang terkena racun dari tingkat stres melalui faktor seperti kemiskinan, penganiayaan atau pengabaian dan penyakit mental orang tua. Anak- anak yang senantiasa memperoleh penanganan yang tidak tepat seperti dibiarkan menangis terlalu lama pada saat bayi dan sering diteriaki atau dibentak saat “nakal” akan berefek jangka panjang yakni tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu cemas dan pemarah.

Berdasarkan beberapa konsep dasar perkembangan otak yakni: intervensi sejak dini terhadap perkembangan otak anak yang lebih mempengaruhi dibandingkan intervensi pada masa dewasa menjadi kurang efektif. Bayi membutuhkan hubungan kelekatan (attachment) dengan orang tua terutama pada saat mereka mengalami kondisi stres dan tekanan.

Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini
Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini

Intervensi Dini Masa Prenatal

Sundeland (2006:32) mengatakan pentingnya intervensi diri dikarenakan bagian dari frontal lobe akan berkembang dengan pesat dan baik melalui peranan orang tua namun dapat tidak berkembang dengan baik apabila orang tua membangun pola asuh yang negatif. Frontal Lobe ini berkembang pesat sampai dengan usia 6 tahun dan intervensi dini sangat membantu dalam perkembangan otak sehingga anak mampu memiliki ketrampilan emosionalnya. Bagian-bagian dari frontal lobe yaitu:

  1. Orbifrontal region; memegang peranan penting untuk mengatur dengan efektifitas perasaan yang kuat dan penghambat dorongan otak primitif. Mengatur dalam memberikan respon kepada orang lain, mengidentifikasi emosional orang lain, dan situasi
  2. Dorsolateral Prefrontal; melibatkan kemampuan untuk berpikir, merencanakan, dan membuat
  3. Ventromedial Region; kemampuan berpikir melibatkan pengalaman emosional dan menenangkan otak reptilian di dalamnya.
  4. Anterior Cingulate; bagian yang berfungsi sebagai pusat perhatian dan kesadaran diri (self-awareness).

Oleh karena Perkembangan otak terjadi dengan cepat pada usia 0 – 6 tahun bahkan dimulai sebelum kelahiran, maka intervensi awal sangat penting karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak baik selama masa kehamilan (prenatal) sampai usia 6 tahun.

Selama periode prenatal, otak mulai berkembang pada 3 – 4 minggu masa kehamilan yaitu neuroblasts. Neuroblast akan menjadi neuron atau sel saraf yang berfungsi mengirim atau menerima informasi. Awalnya neuron hanya badan sel sederhana dengan inti atau pusat terdiri dari asam deoksiribonukleat (DNA), yang berisi pemprograman genetis sel. Sebagai otak yang tumbuh sel-sel dasar bermigrasi ke berbagai otak dan sebagian besar neuron berada di korteks dalam 20 minggu kehamilan dan struktur yang menjadi cukup baik selama 12 minggu berikutnya (Papalia & Fieldman,2014:132). Neuron-neuron berkomunikasi melalui proses yang disebut synapses dan memproduksi lebih banyak sinapsis dan neuron yang terjadi antara 12 – 14 minggu kehamilan.

Menurut Papalia & Fieldman (2014:133) pada periode pranatal ini mielinasi mulai terbentuk. apabila koneksi antara neuron terbentuk dilapisi oleh membran. Membran ini menyalurkan transmisi implus netral yang berkaitan langsung dengan fungsi otak terutama proses informasi di dalam otak. Proses pelapisan jalur saraf dengan zat lemak yang disebut mielin yang memungkinkan komunikasi lebih cepat antarsel. Mielinasi dimulai sekitar pertengahan kehamilan di beberapa bagian otak dan berlanjut sampai dewasa pada bagian lainnya. Jalur yang berkaitan dengan indra peraba yang terbentuk saat lahir.

Melianisasi jalur visual yang lebih lambat matang dimulai saat lahir dan terus selama 5 bulan pertama kehidupannya. Persiapan yang berhubungan dengan pendengaran dimulai mielin di awal bulan ke-5 kehamilan, tetapi proses ini belum selesai sampai sekitar 4 tahun. Mielinasi jalur sensoris dan motorik sebelum kelahiran di sumsum tulang belakang dan setelah lahir di selebral korteks dapat menjelaskan muncul dan hilangnya refleks awal, tanda neurologis organisasi dan kesehatan. Oleh karena ini periode prenatal sampai usia 3 tahun disebut periode kritis.

Otak menerima informasi dan membutuhkan stimulasi untuk menerima koneksi yakni stimulus emosional, afektif, verbal, visual dan pendengaran akan menjadi koneksi antar neuron yang akan membuat anak mampu belajar untuk bahagia di masa mendatang. Kualitas dan kuantitas stimulus yang diberikan oleh orang tua/pengasuh akan membuat kapasitas cerebral dan kemampuan kognitif menjadi lebih besar dan kompleks. Neuron dan sinapsis yang terbentuk apabila senantiasa diberikan stimulus akan permanen di dalam otak anak dan yang tidak diperkuat akan mengalami pruning atau kematian sel. Dengan demikian proses ini dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas stimulus dari lingkungannya.

Lingkungan memberikan stimulus yang optimal untuk perkembangan sehingga kuantitas sel-sel saraf akan meningkat dan tidak banyak yang mati pada saat mereka dewasa.

Pola Asuh Orang-Tua dalam Mengasuh Otak

Menurut Sunderland (2006:20), selama berabad- abad orang tua/pengaruh memiliki teknik pengasuhan anak tanpa menyadari adanya dampak jangka panjang dari pengasuhan tersebut dalam perkembangan otak anak. Dengan demikian interaksi orang tua dengan anak mempunyai dampak jangka panjang terhadap fungsi dan keseimbangan kimia di dalam otak mereka. Dengan kemajuan ilmu neurosains, scan otak dan penelitian lainnya terpenuhinya informasi penting pengasuhan otak yang dilakukan orang tua/pengasuh.

Walapun perkembangan otak telah dimulai sejak masa kehamilan, perkembangan pesatnya terjadi setelah kelahiran sehingga sangat terbuka terekamnya pengalaman baik yang positif maupun negatif sebagai hasil interaksi dengan orang tua. Pada saat bayi lahir memiliki 200 milyar neuron, namun sedikit koneksi antar sel saraf. Koneksi antar sel saraf ini akan menuju kepada kecerdasaan emosional dan sosial yang hasilnya sangat dipengaruhi oleh peran orang tua. Neuron tersebut berkembang 90 % sampai usia 5 tahun dan mengalami penurunan, milyaran sel terbentuk, terurai dan terbentuk kembali sangat dipengaruhi oleh interaksi orang tua dengan anak.

Selama koneksi antar sel terbentuk, anak membutuhkan bimbingan karena mereka mengalami ketidakseimbangan, stress, dan tekanan dalam menyeimbangkan keinginan dengan tuntutan lingkungannya. Pada usia 7 tahun, “pahatan” yang terbentuk di dalam otak menurun karena sel-sel di dalam otak berproses melianinasi.

Berdasarkan penggambaran-penggambaran sebelumnya disimpulkan bahwa perkembangan otak yang luar biasa, sangat membutuhkan pengaruh, peranan, dan bimbingan orang tua. Cara orang tua memberikan semua hal tersebut ada di dalam pola asuh (parenting) yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Peranan pola asuh orang tua sudah dimulai sejak berada di dalam kandungan terutama pada masa kehamilan minggu ke-4.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mu`minun ayat 14:

Kemudian, air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.

Sedangkan pada Surat As-Sajdah ayat 9 Allah SWT berfirman, “Kemudian, Dia menyempurnakan-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.

Hal tersebut menggambarkan periode yang luar biasa terjadi pada masa kehamilan yang dimulai pada masa konsepsi sampai menjelang kelahiran. Selama periode luar biasa tersebut, orang tua memegang peranan penting memberikan stimulus yakni interaksi orang tua dan janin, pengaturan lingkungan yang kondusif serta sering mengumadangkan ayat-ayat suci Al Quran. Pemberian lingkungan positif seperti itu merupakan “makanan bergizi” yang sangat dibutuhkan oleh otak.

Kelekatan (attachment) dengan janin sudah harus dibentuk dengan banyak berkomunikasi, mengusap, dan membacakan ayat-ayat Al Quran. Perkembangan otak yang mulai terbentuk akan menjadi pahatan yang indah serta mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Selama masa kehamilan, segala hal yang dirasakan, dimakan, dipikirkan ibu akan turut dinikmati oleh janin karena adanya tali penyambung antara ibu dan janin.

Perasaan yang positif, bahagia, menyenangkan akan turut dirasakan yang sama oleh janin, sedangkan perasaan yang negatif, penuh amarah, kesedihan akan membentuk pahatan yang tidak indah. Ayah turut menyumbang pembentukan sensasi di tahun-tahun awal kehidupan janin. Keterlibatan ayah secara emosi dengan janin selama berada di kandungan sangat membantu perkembangan otak.

Pembiasaan- pembiasaan positif yang senantiasa dilakukan sangat membantu perkembangan otak dari dasar pembentukan. Mengasuh otak tidak hanya sebatas pada masa kehamilan setelah bayi tersebut lahir perkembangan otak lebih pesat terjadi sehingga kualitas dan kuantitas hubungan ibu dengan anak membutuhkan porsi yang lebih besar.

Allah SWT berfirman pada Surat Al Baqarah ayat 233:

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak terbebani lebih dari kesanggupan. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula ayah (menderita) karena anaknya.”

Bayi yang lahir membutuhkan asupan bergizi dan air susu ibu (ASI) adalah asupan yang paling memenuhi semua kebutuhan bayi.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa ASI merupakan asupan yang terbaik dan paling lengkap. Nutrisi yang terdapat dalam ASI di antaranya adalah

  1. Immunoglobulin A (IgA); yang banyak terdapat pada kolostrum yakni ASI berwana kekuningan yang keluar pertama dari payudara. Zat ini melindungi bayi dari serangan IgA melapisi saluran cerna agar kuman tidak dapat masuk ke dalam aliran darah dan akan melindungi bayi hingga sistem kekebalan tubuhnya berfungsi dengan baik.
  2. Ganfliosida (GA); yang berperan dalam pembentukan memori dan fungsi otak besar serta sebagai alat konektivitas sel otak GA sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Ketika lahir, bayi memiliki 100 miliar sel otak yang belum terhubung (Artan GA diperlukan untuk menghubungkan sel-sel otak tersebut).
  3. Protein ; yang disebut protein kasein dan Protein yang terdapat dalam ASI ini bersifat lebih mudah dicerna oleh tubuh bayi, dibandingkan dengan protein yang berasal dari susu mamalia lainnya.
  4. Lemak ASI; terdiri dari beberapa jenis namun yang paling esensial adalah asam lemak yang merupakan komponen dari semua jaringan tubuh dan diperlukan untuk perkembangan jaringan sel, otak, retina dan susunan ASI mengandung asam lemak tidak jenuh ganda berantai panjang (long-chain polyunsanturated fatty acid atau LC-PUFA) yang terdiri dari DHA (docosahexaneoic acid atau asam dokosaheksaenoat), LA ( linoleic acid atau asam linoleat), ALA (alfa linoleic atau asam alfa linoleat) dan AA (arachidonic acid atau asam arakidonat) Menyusui secara ekslusif dan ikhlas berlangsung sampai usia 2 tahun sangat berguna untuk bayi dan ibu.

Di antara banyak keuntungan pada pemberian ASI salah satunya adalah menciptakan kedekatan dan ikatan antara ibu dan bayi. Menyusui bayi akan meningkatkan kedekatan ibu dan bayi, terutama bila dilakukan dengan skin to skin contact. Metode ini umumnya diterapkan pada bayi yang baru lahir, di mana kulit bayi dan ibu disengaja bersentuhan secara langsung supaya ikatan emosional tersebut tercipta. Menyusui dapat menenangkan dan memberikan pesan kepada emosional bayi bahwa ada seseorang yang senantiasa menjaga dan menyayanginya yaitu ibu. Informasi ini diterima oleh otak bayi sehingga tersalurkan keseluruh sistem saraf dan menimbulkan sensasi pertama yang positif.

Dengan demikian terbukti bahwa menyusui tidak hanya membuat bayi sehat, kuat, cerdas, juga membentuk kedekatan dan ikatan yang sangat dibutuhkan bayi sehingga menenangkan emosi bayi.

Setelah lahir ke dunia, pada minggu-minggu pertama bayi masih belum berinteraksi dengan lingkungannya. Hal itu bukan berarti tidak adanya perkembangan pada bayi, justru berbagai stimulus yang diberikan oleh lingkunganya akan diserap oleh bayi. Aroma tubuh ibu, suara ibu, tertawa, bernyanyi akan diserap dan dipelajari oleh anak. Ibu adalah sosok utama yang direkam dan masuk ke dalam sistem otak bayi. Ibu yang senantiasa merawat, membelai, menyusui bayi dengan penuh kebahagiaan akan menghidupkan saklar positif ke dalam jiwa bayi. Ibu yang tidak membiarkan bayinya menangis lama, segera mengganti popok apabila basah, mendekapnya saat cuaca buruk, dan bersenandung menjelang tidur akan menumbuhkan rasa percaya (trust) sehingga di masa mendatang mereka akan melihat dunia sebagai tempat indah dan membahagiakan.

Hal ini sesuai dengan tahapan psikososial Erik Erikson pada bayi usia 0-1 tahun berada pada tahapan percaya Vs Tidak Percaya (Trust Vs Mistrust). Menumbuhkan kepercayaan pada diri bayi yang sepenuhnya bergantung kepada pengasuh terutama ibu. Bayi membutuhkan kenyamanan dan keamanan secara fisik sehingga yakin bahwa dirinya tidak dapat keadaan yang terancam. Apabila kebutuhan- kebutuhan tersebut dipenuhi, bayi akan menjadi bahagia dan seluruh aspek perkembangannya berlangsung tanpa menghadapi hambatan yang berarti.

Namun hal sebaliknya akan terjadi apabila bayi dibiarkan menangis terlalu lama, tidak diperlakukan dengan lembut, dan sering mendengarkan ucapan-ucapan yang tidak baik dapat menumbuhkan ketidakpercayaan (mistrust). Bayi memiliki kecemasan yang lebih tinggi, kurang bahagia, bahkan sering menangis. Kondisi seperti ini sangat tidak baik untuk perkembangan otak bayi karena bagian dari otak yakni batang otak yang menerima sinyal tersebut sehingga lebih berkembang daripada bagian otak yang lain. Pada usia 2,5 bulan, bayi mulai mengerakan matanya untuk melihat objek-obyek yang berada di lingkungannya.

Namun bayi sangat menyukai melihat wajah ibunya yang selalu tersenyum dan memberikan cinta kepadanya. Suara- suara lucu maupun ekspresi ibu adalah momen yang paling disukai bayi. Bayi mengetahui bahwa wajah yang ramah, lucu, dan penuh cinta adalah ibunya, sosok yang paling dibutuhkan dan dicintainya. Kemampuan ibu untuk memberikan sensasi pertama kepada bayi bahwa mereka dicintai dan mampu mencintai akan memberikan kebahagiaan kepada bayi dan ibu.

Bayi yang tidak mengalami momen bahagia ini di awal kehidupannya akan mengalami kesulitan dan merasa bahwa dirinya ditinggalkan serta tidak dicintai oleh orang tuanya khususnya ibu. Dengan demikian pesan pertama yang diterima otak bayi bahwa mereka mencintai orang tuanya. Hal ini sangat penting karena akan ditransferkan kepada seluruh aspek kehidupannya di mana mereka akan mencintai aspek lain di dalam kehidupannya seperti menyayangi saudara-saudaranya, teman-temannya dan makhluk hidup lainnya.

Kebahagiaan yang diterima otak bayi di awal-awal kehidupannya harus terus dirasakan dan diberikan orang tua kepada anak. Dengan mengajarkan kepada anak bahwa dirinya dicintai dan disayangi kedua orang tuanya, otomatis mengajarkan dan membuat anak mampu mencintai dan menyayangi orang lain. Pada saat bayi, orang tua sering membelai dan memeluknya. Pelukan dan belaian ini akan menurun bahkan menghilang seiring dengan penambahan usia anak.

Penelitian menunjukan bahwa keluarga yang memiliki sentuhan fisik hangat dan penuh cinta akan mengurangi kemarahan dan perbuatan agresi kepada orang lain. Sentuhan fisik hangat dan penuh cinta tetap dibutuhkan anak usia dini. Namun tak jarang orang tua jarang membelai hangat penuh cinta anak-anaknya dengan bertambahnya usia anak. Anak- anak yang jarang atau tidak dibelai hangat penuh cinta akan membuat dirinya menjauh dari orang tuanya. Hal ini dikarenakan ikatan emosional akan menurun tanpa adanya ikatan secara kimiawi. Anak yang jarang dibelai tumbuh menjadi tubuh yang penuh masalah, kecenderungan melukai diri sendiri, merokok, gangguan makan, memakai obat-obatan terlarang, pecandu minuman keras. Kesemuanya ini dapat terjadi pada anak yang jarang dipeluk dan interaksi positif dengan orang tua. (Sunderland,2006:192-193).

Kualitas hubungan yang intens anak dengan orang tua akan membuat kuatnya hubungan emosional di antara mereka yakni hubungan hangat penuh cinta tanpa adanya gangguan dari televisi, komputer, atau gadget. Sebagai contoh anak yang tiba-tiba memeluk ibunya dari belakang dan mengatakan “aku sayang ibu” dan direspon dengan pelukan diangkat ke atas ke bawah merupakan penguatan hubungan emosional orang tua dengan anaknya.

Hubungan emosional yang intens seperti zat adiktif di dalam otak anak. Mereka akan mengaktifkan dopamine yaitu senyawa transmisi saraf yang berperan penting dalam menimbulkan perasaan senang dan nyaman melalui adanya peristiwa yang baru. Semakin banyak jumlah dopamine yang mampu diproduksi maka anak akan semakin bahagia dan terekam oleh otak secara alami akan terstimulasi untuk mengulang kembali perbuatan yang membahagiakan tersebut (Akiragart).

Anak yang senantiasa merasakan kebahagiaan maka membuat sinapsis-sinapsis baru akan banyak terbentuk, tersusun dalam sebuah mekanisme dan semakin kuat apabila anak sering merasakan bahagia. Membahagiakan otak anak berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak. Penelitian telah membuktikan adanya hubungan antara kekuatan psikologis dan aktifasi opion pada otak dan pentingnya dopamine pada otak anak yang merupakan kombinasi antara kehangatan, kebahagiaan, dan gaya hidup (Sunderland,2006:194).

Dengan demikian hubungan emosional yang intens menyediakan kebahagian sehingga secara optimal dapat mengaktifasikan otak anak.

Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini
Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Otak adalah perlengkapan tubuh manusia yang maha penting sebab merupakan pusat kendali kehidupan manusia baik secara lahir maupun secara batin. Kecenderungan kepribadian beragam telah terlihat sejak usia Dengan demikian orang tua beserta lingkungan memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan dasar kepribadian dan kecerdasan anak.
  2. Orang tua berkewajiban membesarkan dan mendidik anak-anak agar menjadi generasi penerus sehingga fungsi kekhalifahan dapat berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pembentukan pahatan yang indah yang dimulai sejak berada di dalam kandungan dengan memberikan stimulus yakni interaksi positif ibu dengan anak, pengaturan lingkungan yang kondusif serta sering mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Quran.
  3. Dengan demikian intervensi dini terhadap perkembangan otak lebih mempengaruhi dibandingkan intervensi pada masa dewasa karena perkembangan otak terjadi dengan cepat pada usia 0-6 tahun bahkan dimulai sebelum kelahiran.

Saran-Saran

  1. Dengan melihat bahwa orang tua adalah peletak utama membentuk pahatan di dalam otaknya sangat diperlukan pendidikan bagi calon orang tua atau pasangan baru terkait pola asuh mereka jikakalau kelak memiliki
  2. Pengalaman pertama sangat penting buat perkembangan otak dengan demikian orang tua harus sangat menyadari peranan pentingnya dan mengasuh otak anak sesuai dengan yang   telah dipaparkan
  3. Anak akan mampu mencintai orang lain dan lingkungannya apabila mereka merasakan dan mendapatkan rasa sayang dan cinta dari orang tuanya. Perasaan cinta yang diberikan orang tua akan diterima oleh otak anak dan dikomunikasikan ke seluruh sistem saraf sehingga anak akan merasakan bahagia. Hal itulah yang membuat anak mampu mencintai dan menyayangi selain dirinya sendiri. Dengan demikian orang tua harus memberikan kasih sayang dan cinta kepada anak-anak sejak berada di dalam kandungan.

Semoga artikel makalah yang berjudul Pengaruh Pola Asuh (Parenting) Orang Tua Terhadap Perkembangan Otak Anak Usia Dini yang ditulis oleh Amelia Vinayastri ini bermanfaat bagi keluarga Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Furchan. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan,Cet.I, Pustaka Pelajar. Yogyakarta:, 2004
  2. Choiruddin. Klasifikasi Kandungan Al Quran. Gema Insani Press. Jakarta 1993
  3. Goleman, Daniel. Kecerdasan Emosional Mengapa EI Lebih Penting Daripada IQ. Edisi 6. Sun. Jakarta. 1997.
  4. Morrison. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Edisi Kelima. Indeks. Jakarta. 2012
  5. Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim. Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak – Mengidentifikasi dan mengembangkan multi talenta anak. Jakarta. Kencana Prenadamedia Group. 2013
  6. Papalia, Diane E. dan Ruth Duskin Fieldman. Experience Human Development Menyelami Perkembangan Manusia Edisi 12, Buku 2. Salemba Humanika. Jakarta. 2014
  7. Parker, Steve. Ensiklopedi Tubuh Manusia – terjemahan Winardini. Erlangga. Jakarta. 2009.
  8. Sunderland, Margot, The science of Parenting, Practical guidance on sleep, crying, play and building emotinal wellbeing for life. DK. United Kingdom. 2006.
  9. http://www.mcb.web.id/2014/10/rusak-milyaran-sel-otak-anak-kalau.html. Diunduh 2015
  10. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Terbaru/Terbaru/kandungan.nutrisi.pada.asi/001/001/2161/3. Kandungan nutrisi Pada ASI. Diunduh 5 Maret 2015.
  11. http://id.theasianparent.com/14-manfaat-menyusui/2/.   14 Manfaat Menyusui. A.Maya. Diunduh 5 Maret 2015.
  12. http://akiragarts.wordpress.com/2008/08/27/mengoptimalkan-kerja-otak/’’ Mengoptimalkan kerja otak. Apa itu Dopamine? Diunduh 5 Maret 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *