Perkembangan Gerakan Kasar dan Gerakan Halus Pada Anak Usia 0-2 Tahun

Perkembangan Gerakan Kasar dan Gerakan Halus Pada Anak Usia 0-2 Tahun

Perkembangan Gerakan Kasar dan Gerakan Halus Pada Anak Usia 0-2 Tahun  – Pada usia 0-2 tahun, perkembangan kemampuan gerakan kasar dan gerakan halus seorang anak terlihat sangat pesat dan menakjubkan. Bayangkan, dari seorang bayi yang tidak berdaya dan tidak mampu mengendalikan gerakannya, dalam waktu 12 bulan, anak mengembangkan kemampuan fisik yang luar biasa. Kuncinya terletak pada kematangan fisik dan saraf-sarafnya.

Buktinya, dengan latihan sekeras apa pun, kita tidak akan bisa membuat bayi berusia 2 bulan untuk berjalan, meskipun kemampuan melangkahkan kaki sudah dimiliki bayi sejak lahir. Jadi, perkembangan fisik tidak semata karena latihan, tetapi juga melibatkan faktor kesiapan fisik.

Perkembangan Gerakan Kasar dan Gerakan Halus Pada Anak Usia 0-2 Tahun

Kemampuan gerakan kasar adalah kemampuan manusia menggerakkan bagian tubuh yang berfungsi untuk berpindah tempat, seperti merangkak, berjalan, berlari, melompat. Agar dapat berpindah tempat, manusia harus memiliki kemampuan dasar seperti duduk dan menegakkan tubuh. Tidak mungkin seseorang yang hanya mampu berbaring lalu dapat berjalan tanpa bantuan. Nah, untuk dapat melakukan kegiatan berpindah tempat, maka kaki menjadi bagian tubuh yang paling penting.

Sedangkan kemampuan gerakan halus melibatkan mata dan tangan untuk dapat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan gerakan tangan. Misalnya, untuk mengambil suatu benda, menulis, menggambar, dan kegiatan lainnya yang menggunakan tangan serta kerja samanya dengan mata. Agar perkembangan fisiknya optimal, anak memerlukan kesempatan untuk melatih kemampuannya.

Anak yang memiliki kesempatan untuk merangkak secara bebas dapat mengembangkan kemampuan merangkak yang lebih baik dibandingkan anak seusianya yang hanya sesekali dibiarkan merangkak. Demikian juga ketika anak belajar menaiki dan menuruni tangga. Strategi yang paling baik adalah memberikan semangat kepada anak untuk melatih kemampuannya dengan tetap mengingat perkembangan fisik dan saraf-sarafnya. 

Kemampuan Bayi Mengendalikan Gerakan

Setiap bayi memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda, namun secara umum kemampuan bayi untuk mengendalikan gerakan tubuhnya berkembang selama 2 tahun pertama. Kemampuan mengendalikan gerakan ini terbagi menjadi dua bentuk.

1. Dari arah kepala ke kaki

Bayi mengembangkan pengendalian gerakan dari bagian atas tubuhnya ke bagian kaki. Coba perhatikan, bayi pasti mampu menahan posisi kepalanya agar tegak sebelum ia mampu menahan posisi badannya untuk duduk. Bayi juga harus bisa menahan badannya untuk tegak ketika duduk, sebelum ia bisa berjalan.

2. Dari dada ke luar.

Bayi mengembangkan kemampuan mengendalikan gerakan dari bagian tengah tubuhnya (kepala, dada, pinggang/perut) terlebih dahulu sebelum ia mampu mengendalikan gerakan tangan dan kakinya. Bayi dapat mengangkat dadanya dari posisi tengkurap sebelum akhirnya ia bisa menjangkau mainannya dengan tepat. Bayi juga akan mengembangkan kemampuannya mengambil benda dengan jari-jari tangannya sebelum ia mampu menendang bola dengan kakinya. Kedua bentuk pengendalian gerakan ini sejalan dengan perkembangan otaknya. Dengan kata lain, bagian dari otak yang memiliki peranan dalam pengendalian gerakan kepala dan dada berkembang lebih cepat dibandingkan bagian otak yang berhubungan dengan gerakan lengan dan kaki.

Bila kita memahami perkembangan kemampuan pengendalian gerakan ini, kita akan menyadari bahwa untuk mampu berjalan, anak memerlukan kematangan dari segala bagian anggota tubuhnya, tidak hanya kakinya. Anak yang kakinya sudah kuat untuk melangkah dan menahan bobot tubuhnya, namun ia masih belum mampu untuk mengarahkan gerakan kepala dan menahan badannya agar tegak, pasti tidak bisa berjalan.

Anak membutuhkan kestabilan tubuh bagian atas dan pengendalian pinggul agar ia dapat seimbang ketika berjalan. Jadi sebenarnya, anak belajar untuk bisa berjalan, jauh sebelum kaki-kakinya kuat, yaitu ketika ia baru lahir dan belajar mengangkat kepalanya untuk melihat lingkungan sekelilingnya.

Penulis:  Sari Rahayu, S.Gz  dan Alzena Masykouri, M. Psi

Baca juga:

Follow Instgram @Fey777

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *