Saya Adalah Papa Yang Jadi Sahabat dan Teladan Bagi Anak

Saya Adalah Papa Yang Jadi Sahabat dan Teladan Bagi Anak

Saya Adalah Papa Yang Jadi Sahabat dan Teladan Bagi Anak – Sejak Zaid dalam kandungan, saya meyakini, jika tugas menjadi Papa/Ayah sangatlah berat. Namun, semua harus dihadapi dan dijalani, tentunya dengan terus belajar dan belajar, terutama tentang ilmu parenting.

Salah satu PR  yang sangat berat adalah bagaimana caranya, anak mengganggap kita sebagai sahabat dan juga teladan. Kata guru parenting saya, Abah Ihsan, “Akan sangat berbahaya, jika anak tidak nyaman ngobrol bersama dengan Ayahnya”.

Saya berharap, anak saya, bisa menjadi sahabat terbaik. Saya menjadi orang pertama tempat dia curhat, dan nilai-nilai kebaikan saya, menempel pada anak saya. Dan saya menjadi teladan bagi anak. Ada beberapa kisah keteladanan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

Saya Adalah Papa Yang Jadi Sahabat dan Teladan Bagi Anak

Sikap bersahabat dengan anak memiliki peranan besar dalam memengaruhi jiwa anak-anak. Perilaku seseorang akan menjadi cermin bagi sahabatnya.

Rasulullah saw. biasa menemani anak-anak dalam banyak kesempatan. Suatu saat, beliau menemani Ibnu Abbas dan berjalan berdua. Pada lain kesempatan, beliau menemani keponakannya, Ja’far. Kadang-kadang, beliau juga menemani Anas. Beliau bersahabat dengan anak-anak tanpa merasa kikuk, apalagi angkuh.

Menyertai orang dewasa merupakan hak anak. Tujuannya agar mereka bisa belajar dari orang dewasa sehingga jiwanya terdidik dan kebiasaannya menjadi baik.

Dalam sebuah hadits, Anas bin Malik menjelaskan bahwa Jibril pernah datang kepada Rasulullah saw. saat beliau masih anak- anak. Sementara itu, beliau tengah bermain bersama anak-anak lain. Kemudian, Jibril membawa beliau, membuatnya pingsan, dan membelah dadanya.

Seorang sahabat Rasulullah saw. yang masih anak-anak menceritakan tentang kaumnya yang meminta dirinya untuk menemani Rasulullah saw. Permintaan yang ditindaklanjuti dengan bersahabat bersama Rasulullah itu kelak membuatnya banyak meriwayatkan hadist-hadist Rasulullah saw.

Ia menginformasikan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya dari Rasulullah saw. Ia adalah Abu Juhaifah r.a. Dia mengatakan, “Saya datang bersama rombongan dari Bani Amir bin Sha’sha’ah di Abthah. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Selamat datang, kalian adalah bagian dariku.’ Saat tiba waktu shalat, keluarlah Bilal, lalu adzan dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya. Ia menengok (ke kanan dan ke kiri) saat adzan. Maka, ketika Rasulullah saw. (hendak) melakukan shalat, beliau menancapkan tongkat seraya shalat meng- hadapinya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad no. 2191 dengan sanad shahih).

Baca juga : Pentingnya Ayah Mendidik Anak Dalam Pandangan Islam

Rasulullah saw. pernah melihat sekelompok anak-anak tengah bermain. Beliau tidak memisahkan mereka dan tidak pula meng- hentikan permainan mereka. Bahkan, beliau mendukung semangat kebersamaan itu dan mengawasi permainan mereka.

Demikian pula dengan para sahabat beliau. Umar biasa mene- mani putranya dan Ibnu Abbas. Zubair biasa menyertai anaknya ke medan perang untuk belajar seni berperang hingga tumbuh menjadi kuat dan tangguh.

Pada masa kecilnya, Rasulullah saw. biasa bergaul dengan anak-anak dan bermain bersama mereka. Pagi dan petang beliau selalu beserta mereka. Dalam suasana seperti itulah beliau tumbuh.

Becermin dari Rasulullah, sejatinya para orang tua dapat menye- diakan waktu untuk menemani anak-anaknya. Anak-anak juga perlu dicarikan teman yang sebaya dengannya. Jika orang tua pandai-pandai memilihkan teman yang saleh untuk anak-anaknya dan mengawasi perilaku mereka serta membimbingnya, hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

Faktor keteladanan orang tua juga memiliki pengaruh besar terhadap jiwa anak karena biasanya mereka meniru kedua orang tuanya. Bahkan, kedua orang tuanya itu mencetak perilaku paling kuat. Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi, demikian kata Rasulullah saw.

Keteladanan adalah sarana paling efektif untuk menuju keber- hasilan pendidikan. Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi Mu- hammad saw. untuk menjadi teladan bagi manusia. Sungguh, telah ada untuk kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik (Q.S. Al-Ahzab 33:21). Allah pun kemudian menampilkan kepribadian Rasulullah saw sebagai gambaran utuh sistem Islam; gambaran yang hidup dan abadi sepanjang sejarah.

Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. Ia men- jawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.”

Rasulullah saw. adalah teladan agung untuk manusia sepanjang sejarah. Dengan segala perilaku dan kata-katanya, Rasulullah saw. adalah pendidik dan penuntun. Oleh karena itu, ia menganjurkan para orang tua agar menjadi teladan yang baik dalam hal kejujuran bagi anak-anaknya. Kejujuran adalah jalan keberhasilan.

Abu Dawud mengeluarkan hadits dari Abdullah bin Amir. Ibnu Amir berkata, “Suatu hari, ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah saw. tengah duduk di rumah kami. Ibuku mengatakan, ‘Kemarilah, aku akan memberi kamu sesuatu.’ Rasulullah saw. bertanya kepadanya, ‘Apa yang mau kauberikan kepadanya?’ “Ibuku menjawab, Aku akan beri dia kurma. “Rasulullah Saw berkata kepadanya, ‘Demi Allah, jika engkau tidak memberi sesuatu kepadanya, akan dicatat bahwa engkau berdusta.’”

Tuntunan Rasulullah saw. itu menunjukkan upaya keras beliau agar pendidik mempraktikkan kejujuran di hadapan orang yang dididiknya untuk memberikan keteladanan kepadanya.

Abdullah bin Amir r.a. mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, Suatu hari, berangkatlah tiga orang dari umat terdahulu hingga tiba malam yang memaksa mereka berlin­ dung di sebuah gua. Lalu, mereka memasukinya. Tiba­tiba, sebuah  batu besar jatuh dari gunung menutup pintu gua tersebut. Mereka berkata, “Tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari batu ini,  kecuali doa kita dengan (perantaraan) amal saleh kita.” Salah seorang di antara mereka mulai berdoa, “Ya Allah, aku memiliki ibu bapak yang sudah tua renta. Aku tidak pernah berani mendahului mereka minum pada sore hari, tidak pula keluargaku. Pada suatu hari, aku harus pergi jauh untuk mencari kayu bakar hingga aku pulang menemui mereka dalam keadaan sudah tertidur. Aku tidak ingin membangunkan mereka, sementara aku tidak mau mendahulukan keluargaku (untuk minum). Padahal, anak­anakku, saat aku datang, menggeliat­geliat karena lapar. Maka, aku menunggu kedua orang tuaku bangun, sedangkan cangkir tetap di tanganku hingga terbit fajar. Saat kedua orang tuaku bangun, aku meminumkan minuman itu kepada mereka. Ya Allah, jika aku lakukan itu karena mencari rida­Mu, berilah aku jalan keluar dari impitan batu ini.” Maka, bergesarlah batu itu sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar darinya …. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa betapa Rasulullah saw. ingin agar para pendidik berbuat baik kepada orang tuanya agar menjadi teladan bagi orang yang sedang dididik. Apa makna anak- anak yang dibiarkan menggeliat-geliat kelaparan, padahal cangkir minuman itu ada di tangannya? Bukankah itu menunjukkan bahwa ayah adalah teladan bagi anak-anaknya dalam hal berbuat baik kepada kedua orang tuanya?

Sahl bin Sa’ad As Sa’idi meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. diberi minuman. Beliau kemudian meminumnya, sementara di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki-laki dan di sebelah kiri beliau orang-orang yang sudah tua. Rasulullah saw. bertanya kepa- da anak itu, “Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi mereka (yang tua) terlebih dahulu? “Si anak itu menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapa pun.”

Tuntunan Rasulullah saw. itu menunjukkan bahwa beliau mem- berikan teladan dalam bersikap lemah-lembut kepada anak-anak kecil dan berpegang teguh dengan manhaj Islam dalam tata cara minum. Tujuannya agar generasi Islam mengikuti jejak langkahnya itu.

Demikianlah Rasulullah saw. mengajari orang yang mengemban amanah pendidikan agar menjadi teladan dalam segala hal. Yang demikian itu agar anak-anak terpengaruh dengan perilaku mereka yang terpuji, dengan nasihat yang membekas, dengan per- ingatan mereka yang membimbing, dan dengan pendidikan yang bijaksana dan integral.

Anak-anak akan meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati. Jika mereka mendapatkan kedua orang tuanya jujur, mereka akan tumbuh menjadi orang jujur. Demikian pula dalam hal lainnya. Anak-anak melihat orang dewasa di sekitarnya sebagai sosok ideal. Jadi, ayah dan ibu di rumah atau guru di sekolah, dengan segala perilakunya, akan menjadi contoh yang akan ditirunya.

Di sinilah arti penting tidak bolehnya menampakkan sikap kontradiktif di depan anak-anak. Tidak boleh sama sekali, misal- nya, mengatakan kepada anak-anak bahwa dusta itu salah dan haram, sementara kita berdusta di hadapannya. Contoh yang lain adalah saat kita mengingatkan kepada anak untuk tidak kotor, tetapi kemudian mereka melihat kita makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan, “Aku menginap di rumah bibi- ku, Maimunah, pada suatu malam. Aku melihat Rasulullah saw. berdiri (untuk shalat malam). Beliau berwudu dari ember yang tergantung dengan (cara) wudu yang ringan. Kemudian, ia berdiri shalat dan aku pun bangun untuk wudu seperti wudu beliau. Lan- tas, aku kembali (dari berwudu) dan berdiri di samping kiri Ra- sulullah saw. Maka, beliau memindahkanku ke sebelah kanannya kemudian ia shalat.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah peran keteladan bagi jiwa anak. Oleh sebab itu, orang tua dituntut untuk menjadi teladan yang baik karena anak akan mengamati perilaku mereka dan perkataan mereka. Anak bia- sanya bertanya-tanya tentang alasan orang tua melakukan sesuatu. Jika yang dilakukan itu baik, anak pun akan baik.

Saat kecil, Abdullah bin Abi Bakrah senantiasa mengamati doa-doa yang dilantunkan ayahnya. Ia mengatakan, “Saya berta- nya kepada ayah saya, ‘Ayah, setiap pagi, aku mendengarmu mengucapkan, “Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah pandanganku. Tidak ada Tuhan selain Engkau.” Engkau mengulang-ulangnya tiga kali jika datang waktu pagi. Engkau pun mengulangnya tiga kali jika datang waktu sore.’” Ayahnya menjawab, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. berdoa dengan doa itu. Jadi, aku ingin mengikuti sunahnya.” (H.R. Abu Dawud)

Kedua orang tua dituntut melaksanakan perintah-perintah Allah Swt. dan sunah-sunah Rasul-Nya dalam bentuk amal nyata dan perilaku serta senantiasa meningkatkan hal itu sesuai dengan kemampuannya. Anak-anak senantiasa mengamati mereka, dari pagi hingga petang dan dalam setiap kesempatan.

Kemampuan meniru pada anak-anak, baik karena paham mau- pun tidak paham, amat besar melebihi dugaan kita. Sementara itu, kita memandangnya sebagai makhluk kecil yang tidak mengerti apa-apa. Oleh karena itu, keteladanan dalam pendidikan merupakan salah sarana paling efektif dan berpengaruh dalam mempersiapkan akhlak anak dan membentuknya secara psikologis dan sosial.

Pendidik adalah prototipe dalam pandangan anak. Oleh sebab itu, teladan yang baik dalam pandangan anak pasti akan diikutinya dengan perilaku dan akhlak yang baik juga, baik disadari maupun tidak. Bahkan, keteladanan itu akan terpatri dalam jiwanya. Perasaannya akan membayangkan ucapan, perbuatan, perasaan, dan mental orang tua, baik disadari maupun tidak.

Jadi, keteladanan merupakan faktor yang penting dalam membentuk kesalehan atau keburukan anak. Jika pendidik jujur, amanah, berakhlak baik, pemurah, pemberani, dan menjaga kesucian diri, si anak akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, ber-akhlak mulia, pemurah, pemberani, dan menjaga kesucian diri. Akan tetapi, jika pendidik berdusta, khianat, kikir, dan pengecut, si anak pun akan tumbuh menjadi pendusta, pengkhianat, penakut, dan kikir.

Semoga artikel “Saya Adalah Papa Yang Jadi Sahabat dan Teladan Bagi Anak” ini bisa bermanfaat bagi Ayah dan Bunda.

Silahkan di follow Akun Instagram Saya @Fey777

Baca juga : 5 Hal Yang Dilakukan Papa Ketika Menanti Kehadiran Buah Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *