Solusi Mudah Bagi Orangtua Yang Anaknya Mogok Makan

Solusi Mudah Bagi Orangtua Yang Anaknya Mogok Makan


Solusi Mudah Bagi Orangtua Yang Anaknya Mogok Makan – Oleh: Adlil Umarat (Pak Ading) –Childhood Optimizer Trainer.
==========
Ayah bunda, pernahkah mengalami si buah hati mogok makan dan tiba-tiba saja tidak mau makan untuk periode waktu yang cukup panjang? Kami pernah mengalaminya saat anak saya berusia 2 tahunan lebih beberapa bulan.

Suatu kali ibu mertua sedang berkunjung, melihat cucunya agak kurus (terlihat tulang iganya ketika mau mandi), lalu berkomentar, “Ya Allah, anaknya gak dikasih makan tah? Kurus, kurang gizi?”
—————————————-

Mendengar komentar itu, tentu saja kami tidak nyaman. Kami sama sekali tidak ada niat tidak memberi makan anak. Tentu saja semua kebutuhan gizinya kami penuhi. Tapi memang, selera makannya mungkin tidak terlalu besar. Bagi kami waktu itu, asalkan geraknya lancar, susunya cukup, ia ceria, artinya ia sehat. Tidak ada masalah.

Efek lanjutan komentar mertua juga tak baik buat istri. Istri jadi tertekan. Ia merasa sebagai ibu yang tak becus mengurus anak. Akibatnya? Kami melakukan berbagai upaya, bagaimana caranya agar anak kami tidak dicap “kurang gizi” lagi. Apapun caranya. Bagaimanapun. Kuping kami panas juga mendengarnya.

Akhirnya kami mencari referensi di dunia maya, apa saja variasi makanan yang bisa diasupkan kepada anak usia dini. Fokus utama kami adalah makanan yang bergizi. Tidak hanya itu, kami upayakan yang mahal. Contohnya macam-macam olahan ikan salmon dicampur ke bubur, ikan tenggiri, ikan dori, dan sejenisnya.

Semakin keras upaya kami menghadirkan makanan bergizi tinggi, ternyata tidak diikuti respon positif dari anak kami, Afiqah Humayra Umarat. Ia tetap menolak makan. Ia tetap pakai prinsip tutup mulut rapat-rapat. Menolak keras. Ia lebih banyak konsumsi ASI waktu itu. Agak lewat dari 2 tahun memang.

Melihat kejadian ini berlarut-larut, akhirnya kami mendatangi dokter anak di sebuah rumah sakit swasta di Cibubur. Namanya dokter Syarifah Hanum. Hasil tanya-tanya kepada orangtua lainnya, katanya dokternya galak. Tidak seramah dokter-dokter favorit yang antriannya menggila.

Tapi ada poin penting yang kami temukan pada dokter ini, yaitu ia mau menjelaskan panjang lebar jika kita selaku pasien bertanya. Ia bukan aliran dokter kejar setoran, yang buru-buru melayani pasien. Kami siapkan list pertanyaan.

Begitu masuk ruang dokter, ditanya apa keluhannya. Kami ceritakan kami khawatir selaku orangtua bahwa anak kami kurang gizi, terlalu kurus. Lalu dokter pun memeriksa Afiqah. Ditanya ini-itu. Lalu sampai ke pembicaraan tentang asupan makanan.

“Biasanya dikasih makan apa?” tanya dokter.

“Kami kasih yang bergizi dok. Bubur campur sama ikan salmon, ikan dori, ikan tenggiri…..” jawab kami.

“Ibu doyan gak makan itu?” ia bertanya balik.

“Hah? Eee….ya enggak dok. Itu kan makanan bayi,” kata istri saya.

“Ya ibu aja gak doyan, gimana anaknya?” sergah si bu dokter lagi.
Benar juga nih kata orang-orang. Dokter ini GALAK. TEGAS. Kita orangtuanya pasien “DIMARAHIN”.

Suasana jadi freez sesaat. Dooo……

Tapi kami senang sebenarnya. Si dokter MEMARAHI kami dalam kapasitas dia sebagai dokter dengan argumentasi yang logis. Pikiran kami mulai terbuka. Benar juga ya kalau dipikir-pikir. Mengapa anak kami tidak mau makan makanan yang bergizi yang sudah kami siapkan? Ternyata dengan usianya yang 2 tahun, seharusnya ia tak kami berikan makanan yang cocok untuk bayi. Bubur meski dicampur asupan bergizi tinggi, mahal, tetap takkan menarik buatnya. Afiqah seperti tidak berminat memang ketika melihat makanan-makanan yang kami sajikan.

“Lalu bagaimana dong dok solusinya?” tanya kami.

“Begini deh. Ini anak ibu tidak sakit, tidak kurang gizi. Ini normal. Sehat. Tidak kenapa-kenapa,” jelas si dokter.

“Dek, nanti kamu kalau sudah besar, kamu yang jadi dokter anak, ngobatin teman-teman kamu yang sekarang obesitas ya. Pasti banyak yang sakit jantung, penyakit dalam. Ok?” begitu lanjutnya. Afiqah yang waktu itu sudah bisa komunikasi, mengangguk-angguk tanda setuju.

Kelak, setelah pulang dari dokter itu, Afiqah terobsesi selalu bilang ingin jadi dokter, ngobatin anak-anak yang kegendutan.

Lalu bagaimana ini solusi agar anak kami tidak dicap kurang gizi oleh mertua? Tidak hanya mertua, tapi juga cap dari orang lain yang kerap bilang anak kami kurus? Telinga kami waktu itu sakit juga mendengarnya. Bosan atas celotehan itu.

Aybun (Ayah-Bunda) mau tahu jawaban si dokter? Ternyata jawabannya mengejutkan. MUDAH, GAMPANG, dan SEDERHANA sekali caranya mengatasi anak yang tidak mau makan alias ngambek makan.

Solusi Mudah Bagi Orangtua Yang Anaknya Mogok Makan
—————————————

-“Ibu suka makan apa?” tanya si dokter.

Istri saya menjawab, “Saya bisa makan apa aja.”

“Ya udah, kasih makanan yang ibu suka makan apa. Makan opor, makan sate, ya dek? Semua yang enak-enak,” rayu si dokter kepada Afiqah.

“Kalau gak suka juga dok, gimana?” tanya balik Manda Andin.

“Oke. Sekarang, bapaknya, suka makan apa? Yang paling disuka banget?”

Lalu dijawab istri saya, “Suami saya suka ikan teri dan kacang dok.”

“Ya udah, kasih makanan yang ayahnya suka aja.”
—————————————-

Kami seperti di “smackdown” sama si dokter ini dengan teknik bantingan yang paling mudah. Kok gak kepikiran ya memberikan makanan ala orang dewasa? Ini salah kami, terlalu menganggap anak kami ini masih anak kecil saja terus-menerus. Ini adalah ego orangtua yang meremehkan anak kecil. Harusnya ia tak dikasih bubur lagi. Harusnya ia sudah diperlakukan seperti orang dewasa.

Sepulang dari rumah sakit, kami penasaran. Apakah benar analisis si dokter? Kami lalu memberikan makanan nasi, ikan teri, kacang kepada Afiqah. Teri mengandung kalsium tinggi. Sementara kacang mengandung lemak nabati. Ternyata mengejutkan. Ia makan dengan lahap. Habis. Tuntas makannya. Selanjutnya, kami identifikasi lagi, kami suka makan apa, lalu kami berikan ke Afiqah juga.

Ada tiga kesalahan kami pada kasus ini.

Pertama. Ya Allah, maafkan kami yang selaku orangtua lupa bahwa anak kami ini adalah darah daging kami. Pasti seleranya juga tidak jauh-jauh dari kami. Kenapa kami pusing tujuh keliling identifikasi anak kami? Ambisi-ambisi kami memaksakan anak makan makanan bergizi tinggi, tapi diolah tidak tepat, adalah bentuk pemaksaan yang tidak memperlakukan anak secara hormat. Seharusnya kami memberikan makanan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Ia bukan lagi bayi. Tidak pas diberi makanan yang lembek-lembek lagi.

Kedua. Ambisi lain yang juga keliru adalah kami cukup berambisi agar ia gendut. Konsep yang salah sebenarnya. Anak kecil gendut belum tentu sehat. Bahkan, ada resiko ia menanggung banyak penyakit di kemudian hari.

Ketiga. Kami juga terlalu mendengarkan apa kata orang. Kami terlalu banyak memusingkan cap dan label dari orang, sehingga kami kehilangan ketenangan kami. Anak kami tidak kurang gizi. Anak kami mogok makan, karena ia tidak diberikan makanan yang sesuai seleranya. Ternyata, begitu mudah mencari solusi dari anak usia dini yang mogok makan: BERI MAKANAN YANG BIASA ORANGTUANYA MAKAN. Sesederhana itu. Tidak perlu analisa yang rumit-rumit ternyata.

Mudah-mudahan Aybun (Ayah-Bunda) di rumah yang punya kesulitan yang sama dengan kami–dimana anaknya mogok makan–bisa mempraktikkan tips sederhana di atas. Mari sama-sama pahami lagi selera makan anak, agar tumbuh-kembangnya berjalan optimal. Selamat mencoba!

“Optimalkan masa kecil anak, agar hidupnya selamat, kelak!”

JOIN FB grup: Optimasi Masa Kecil Anak  http://bit.ly/29uiEJs
Like Fan Page: Adlil Umarat Childhood Optimizer  http://bit.ly/29XHgyN
Web: www.childhoodoptimizer.com 
E-mail: childhoodoptimizer@gmail.com
Twitter: @pukul5pagi
LinkedIn: Adlil Umarat

=====

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *