Tips Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Ala Parenting Rasulullah

Tips Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Ala Parenting Rasulullah

Tips Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Ala Parenting Rasulullah – Ayah Bunda, rasa percaya diri pada anak sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Rasul sudah mencontohkan kehidupan berkeluarga dan ilmu parenting. Rasulullah saw. menggunakan banyak cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, antara lain sebagai berikut.

  1. Memperkuat Kemauan Anak

Hal ini dilakukan oleh beliau dengan dua cara. Pertama, membiasakannya menjaga rahasia, seperti yang dialami oleh Anas bin Malik dan Abdullah bin Ja’far. Ketika anak belajar menjaga rahasia dan tidak membocorkannya, kemauannya tumbuh dan menguat. Oleh karena itu, rasa percaya dirinya menjadi besar.

Kedua, membiasakan berpuasa. Ketika anak mampu bertahan dalam keadaan lapar dan haus karena puasa, ia akan merasakan kemenangan mengalahkan hawa nafsu sehingga menjadi kuatlah kemampuannya dalam menghadapi kehidupan. Hal itu akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Para sahabat sangat memerhatikan agar anak-anaknya berpuasa. Untuk itu, mereka menyiapkan mainan saat anak-anaknya berpuasa agar mereka terhibur dan tidak merasakan panjangnya siang.

Tips Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Ala Parenting Rasulullah

  1. Menumbuhkan Kepercayaan Sosial

Ketika anak bergaul dengan orang dewasa dan berkumpul dengan teman-teman sebayanya, akan tumbuh rasa kepercayaan sosialnya. Inilah yang kita tangkap dari keturutsertaan para sahabat terhadap aktivitas anak-anaknya.

Anak-anak mereka biasa menghadiri majelis Rasulullah saw. karena orang tua mereka mengajaknya. Umar bin Khattab menemani anaknya datang ke majelis Rasulullah saw.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukanlah kepadaku sebuah pohon yang mirip dengan seorang Muslim. Ia memberikan buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya dan daunnya tidak pernah gugur.”

Terlintas dalam benakku bahwa itu adalah pohon kurma. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya karena di sana ada Abu Bakar dan Umar. Mereka tidak berbicara. Kemudian, Rasulullah saw. berkata, “Itu adalah pohon kurma.”

Ketika aku keluar bersama ayahku, aku mengatakan, “Ayah, terlintas dalam benakku bahwa yang dimaksud adalah pohon kur- ma.”

Umar menjawab, “Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya? Andai saja kamu mengatakannya, aku lebih suka.”

Ibnu Umar menjawab, “Tidak ada yang menghalangiku untuk mengatakannya selain karena aku tidak melihat engkau dan Abu

Bakar berbicara. Jadi aku tidak mau.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Ternyata, aku adalah yang pa- ling kecil, maka aku diam saja.”

Anas bin Malik r.a. mengatakan, “Rasulullah saw. bergaul dengan kami hingga ia mengatakan kepada adik kami, ‘Hai Aba Umair, sedang apa burung kecil itu?’ Kami menggelar tikar, lalu beliau shalat dan membariskan kami di belakangnya.” (H.R. Ahmad)

Jadi, membawa anak ke majelis orang dewasa akan mengungkapkan kekurangan dan kebutuhannya. Hal itu akan membantu pendidik mengarahkannya menuju kesempurnaan, mendorongnya untuk menjawab ketika ditanya, berbicara setelah meminta izin dengan tata krama dan kesopanan, dan belajar mengenal sedikit demi sedikit pembicaraan orang dewasa sehingga ia siap untuk berkecimpung di tengah masyarakat. Demikianlah, ia berproses secara bertahap.

Menumbuhkan kepercayaan sosial pada diri anak juga dapat dilakukan dengan membiasakannya bersalam. Kita melihat bahwa Rasulullah saw. dan para sahabatnya mempraktikkan cara yang halus untuk menanamkan kebiasaan mengucapkan salam kepada anak-anak.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa ia lewat di depan anak-anak, lalu ia mengucapkan salam kepada mereka seraya mengatakan, “Rasulullah saw. melakukannya.” Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita membiasakan anak memulai mengucapkan salam, terutama jika masuk ke rumah.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,

Hendaklah orang yang naik kendaraan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak.

Dalam riwayat Bukhari, hadits tersebut mendapat tambahan,

“Yang kecil kepada yang tua.”

At Tirmidzi meriwayatkan dari Anas r.a. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu, ucapkanlah salam. Niscaya hal itu akan mendatangkan berkah kepadamu dan kepada keluargamu.” (Hadits hasan shahih)

Setiap orang tua juga diperintahkan membiasakan anak-anaknya untuk mengucapkan salam saat mereka keluar dari rumah dan tidak mengucapkan salam kepada orang yang sedang membaca

Al Qur’an atau sedang berdzikir. Tujuannya tentu saja agar tidak mengganggu orang-orang yang sedang beribadah itu.

Bisa juga menumbuhkan kepercayaan sosial ini dengan cara mengutusnya untuk keperluan rumah tangga atau keperluan orang tua. Dengan begitu, ia akan mengenal liku-liku kehidupan, merasa gembira dengan bertambahnya wawasan. Dengan demikian, akan terbentuklah kepercayaan diri dalam menghadapi persoalan hi- dup, sesuatu yang membuatnya mampu mengarungi kehidupan ini dengan langkah-langkah yang mantap, fokus, dan tanpa guncangan.

Imam Ahmad, Bukhari, dan Muslim dan redaksi hadits ini berdasarkan riwayat Ahmad meriwayatkan dari Tsabit Al Bannai dari Anas bin Malik r.a. yang berkata, “Aku melayani Rasulullah saw. pada suatu hari sampai aku menyelesaikan tugasku. Rasulullah saw. kemudian tidur siang dan aku keluar menemui anak-anak. Aku melihat permainan mereka. Maka, datanglah Rasulullah saw. seraya mengucapkan salam kepada anak-anak yang sedang bermain.

Kemudian, beliau memanggilku dan menyuruhku untuk satu keperluan. Maka, aku pun pergi untuk keperluan itu, sedangkan Rasulullah saw. duduk di bawah bayang-bayang hingga aku kembali. Aku terlambat datang menemui ibuku. Ketika aku datang kepada ibuku, ia bertanya, “Apa yang membuatmu terlambat datang?”

Aku menjawab, “Rasulullah saw. mengutusku untuk satu keperluan.”

Ia berkata, “Apa keperluannya?”

Aku menjawab, “Itu rahasia Rasulullah saw.”

Ia berkata, “Kalau begitu, jagalah rahasia Rasulullah saw.”

Kehadiran anak-anak pada perayaan-perayaan yang disyariatkan, upacara pernikahan, dan menginap di rumah kerabat yang saleh juga termasuk hal yang baik. Hal itu dapat membuat keceriaan pada jiwa anak-anak, melatih mereka untuk berinteraksi dengan orang lain, dan mendukung terciptanya hubungan sosial yang baik dengan masyarakatnya.

  1. Menumbuhkan Kepercayaan Ilmiah

Hal ini dicapai dengan cara mengajarinya Al Qur’an, sunah, dan shirah Rasulullah saw. yang agung. Kelak, anak akan tumbuh dengan membawa ilmu yang luas. Dengan hal itu, akan tumbuhlah kepercayaan ilmiah dalam dirinya karena ia memiliki hakikat-hakikat ilmu yang jauh dari khurafat dan takhayul. Baik juga apa- bila anak dimotivasi untuk menghafal dengan pemberian hadiah.

  1. Menumbuhkan Kepercayaan Ekonomi dan Bisnis

Hal ini dapat diwujudkan dengan membiasakan anak berjual- beli, berjalan di pasar dengan disertai orang tuanya untuk memenuhi keperluan mereka. Malik meriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar yang mengatakan, “Keahlianku adalah memberi makan keledai milik Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia mengatakan kepada budaknya, “Ambillah sebagian hinthah keluargamu, kemudian juallah dengan sya’ir, dan janganlah kauterima kecuali yang sama dengannya.”

Rasulullah saw. menyaksikan si kecil Abdullah bin Ja’far sedang bermain dagang-dagangan, lalu beliau mendoakannya, “Ya Allah, curahkanlah barakah dalam perdagangannya.”

Demikianlah, kita mendapatkan Rasulullah saw. begitu antu- sias menumbuhkan kepercayaan diri pada anak.

Beberapa cara salah yang oleh para ahli pendidikan dinilai dapat menyebabkan anak kurang percaya diri. Hal-hal tersebut adalah:

  • cara mendidik yang mengandalkan bentakan dan pukulan; 

  • dominasi orang tua yang tidak memberikan keleluasaan bagi anak untuk berpikir dan bertindak; 

  • tidak mendorong anak untuk mandiri; dan 

  • tidak mewujudkan suasana psikologis yang membuat anak me- rasa nyaman, penuh percaya diri, berani, dan tidak dicekam ketakutan. 


Semoga artikel Tips Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Ala Parenting Rasulullah  ini bermanfaat bagi Ayah dan Bunda. ^_^

Baca juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *